Jombang, Jawa Timur – Direktur Eksekutif Institute for Strategic and Political Studies (INTRAPOLS), Bustomi Menggugat, mengungkap peta sementara persaingan kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.
Bustomi menyebut dari empat kandidat yang masih diperhitungkan, dua nama dari kalangan muda disebut memiliki dukungan lebih besar berdasarkan informasi yang dihimpunnya dari sejumlah sumber di arena muktamar.
“Dari beberapa sumber, di empat calon tersisa, petanya begini,” kata Bustomi kepada awak media, Sabtu (29/8/2026) pagi.
Ia menyebut perkiraan dukungan tersebut terdiri atas KH Yusuf Khudori, KH Abdussalam Shohib, KH Yahya Cholil Staquf dan terakhir KH Abdul Hakim Mahfudz.
Bustomi menegaskan bahwa urutan keempat nama tersebut merupakan peta suara berdasarkan informasi yang diterimanya dari sejumlah sumber, bukan hasil resmi pemungutan suara Muktamar NU.
Jika peta sementara tersebut tidak berubah, dua kandidat dengan perkiraan dukungan terbesar justru berasal dari kalangan muda. Kondisi itu dinilai Bustomi menunjukkan adanya energi regenerasi yang mulai menguat dalam kontestasi kepemimpinan NU.
“NU perlu energi muda dan bersih,” ujar Bustomi.
*Dinamika Rais Aam dan Paket AHWA*
Selain membaca peta persaingan Ketua Umum PBNU, Bustomi juga menerima informasi mengenai dinamika pemilihan Rais Aam.
Menurut informasi yang diterimanya, paket AHWA yang disebut didukung sejumlah tokoh pemerintahan mengalami perubahan posisi dalam persaingan.

Bustomi menyebut KH Miftahul Akhyar diperkirakan tidak kembali menjadi Rais Aam PBNU. Sementara KH Nurul Huda Jazuli dan KH Said Aqil Siradj disebut masuk dalam pembicaraan untuk posisi tersebut.
Namun, sama seperti peta kandidat ketua umum, informasi tersebut merupakan laporan yang diterima dan ditegaskan bukan sebagai hasil resmi Muktamar NU.
Di tengah ketatnya kontestasi, Bustomi meminta seluruh warga NU tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Menurut dia, kompetisi kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Kemenangan maupun kekalahan harus diterima sebagai konsekuensi dari proses tersebut.
“Bencilah sekedarnya dan cintalah sekedarnya. Kalah dalam kompetisi jangan sampai menjadi pemicu permusuhan. Biasa sajalah,” ujar kader senior IPNU itu.
Bustomi juga mengajak seluruh peserta Muktamar NU ke-35 menjaga suasana forum tetap riang dan penuh persaudaraan.
“Kita semua bersaudara dalam NU. Mari riangkan Muktamar NU,” kata mahasiswa program doktoral FISIP UNAIR itu.(*)
Editor: Sulaiman












