Di Usia 70 Tahun, Guspardi Gaus Luncurkan Tujuh Buku, Viva Yoga: Politisi PAN Perlu Meneladani Semangat Intelektualnya

Jakarta –  Peluncuran tujuh buku karya politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN), Guspardi Gaus, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026), menjadi lebih dari sekadar agenda literasi. Momentum yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-70 Guspardi itu berubah menjadi ruang refleksi tentang politik, pengabdian, dan pentingnya tradisi intelektual di kalangan politisi.

Acara bertajuk Refleksi Pemikiran Politik dan Kenegaraan Guspardi Gaus itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Umum PAN yang juga Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Wakil Ketua Umum PAN sekaligus Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, Wakil Ketua Umum PAN sekaligus Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno, serta mantan Ketua DPD RI Irman Gusman.

Dalam kesempatan tersebut, Viva Yoga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun sekaligus apresiasi atas produktivitas intelektual Guspardi yang tetap terjaga di usia 70 tahun.

“Semoga saudaraku Guspardi panjang umur dan hidupnya diberkahi Allah,” kata Viva Yoga.

Menurut dia, penerbitan tujuh buku sekaligus merupakan capaian yang tidak biasa bagi seorang politisi. Buku-buku tersebut dinilai merekam perjalanan pemikiran, pengalaman, serta gagasan kebangsaan yang lahir dari berbagai fase pengabdian Guspardi, termasuk saat menjabat anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II.

Viva Yoga menilai karya-karya tersebut layak dibaca karena tidak hanya memotret dinamika politik praktis, tetapi juga menawarkan refleksi tentang kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Buku-buku ini merupakan refleksi pemikiran, ide, dan gagasan yang lahir dari pengalaman panjang beliau. Isinya perlu dibaca dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Bagi Viva Yoga, Guspardi bukan hanya dikenal sebagai politisi yang vokal, tetapi juga figur yang konsisten merawat tradisi berpikir dan menulis. Ia menyebut Guspardi memiliki wawasan luas, pengalaman organisasi yang panjang, serta kemampuan komunikasi politik yang membuatnya disegani di lingkungan parlemen.

Saat bertugas di Komisi II DPR RI, kata Viva Yoga, Guspardi dikenal sebagai anggota yang aktif menyuarakan pandangan dan kritik terhadap berbagai kebijakan publik.

“Saat di Komisi II, beliau termasuk tokoh yang disegani lintas partai. Karena begitu vokalnya, pernah ada pihak yang langsung mengadukannya kepada Bang Zul,” ujar Viva Yoga disambut tawa hadirin.

Menurut dia, keberanian menyampaikan pandangan yang disertai argumentasi kuat merupakan salah satu karakter yang patut dicontoh oleh kader-kader PAN.

Usia Bukan Penghalang untuk Terus Berkarya

Viva Yoga juga menegaskan bahwa usia tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berkarya dan berkontribusi bagi bangsa. Ia menilai usia 70 tahun yang kini dijalani Guspardi justru menunjukkan kematangan pengalaman dan kebijaksanaan yang masih dibutuhkan dalam kehidupan publik.

Ia mengutip pernyataan Zulkifli Hasan yang mencontohkan sejumlah tokoh nasional yang tetap aktif meski telah memasuki usia lanjut.

“Usia 70 tahun itu hanya angka. Banyak tokoh bangsa yang tetap produktif dan dibutuhkan. Tadi Bang Zul mencontohkan Pak Jusuf Kalla yang usianya sudah di atas 80 tahun, tetapi semangatnya masih luar biasa,” kata Viva Yoga.

Karena itu, ia mengajak seluruh kader dan politisi PAN untuk meneladani semangat pengabdian serta kegigihan Guspardi dalam membangun kapasitas diri melalui organisasi, pemikiran, dan karya tulis.

Sepanjang perjalanan kariernya, Guspardi tercatat aktif di berbagai organisasi, mulai dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Muhammadiyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), hingga Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia.

“Bukan hanya aktif berpolitik, tetapi juga aktif membangun pemikiran dan jaringan pengabdian di berbagai organisasi. Itu yang perlu diteladani oleh kader-kader PAN,” ujar Viva Yoga.

Peluncuran tujuh buku tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa di tengah derasnya arus politik elektoral, tradisi membaca, berpikir, dan menulis masih memiliki tempat penting dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Bagi para hadirin, Guspardi Gaus tidak hanya merayakan pertambahan usia, melainkan juga merayakan jejak gagasan yang terus hidup melalui karya-karyanya.(*)

(Ardi W/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *