29 Tim dari Empat Kabupaten Berlaga, Mayjen Farid Makruf Tempuh 9 Jam Demi Pembinaan Generasi Muda NTT

Ngada, Nusa Tenggara Timur – Semangat membangun generasi muda melalui olahraga terbukti mampu mengalahkan berbagai hambatan, termasuk gangguan transportasi akibat bencana alam. Itulah yang ditunjukkan Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A. saat memutuskan tetap melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), meski penerbangan yang ditumpanginya dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi.

Perjalanan yang semula hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam melalui jalur udara dari Labuan Bajo menuju Ngada berubah menjadi perjalanan darat selama kurang lebih sembilan jam. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi komitmen Farid Makruf untuk menghadiri pembukaan Open Turnamen Mini Soccer U-12 Watutura Cup II Tahun 2026 yang digelar di Bajawa, Kabupaten Ngada.

“Harusnya Labuan Bajo ke Ngada terbang cuma satu setengah jam. Tapi sekarang harus jalan darat karena penerbangan dibatalkan akibat erupsi Gunung Lewotobi. Kita harus naik minibus sekitar sembilan jam,” ujar Mayjen TNI Dr. Farid Makruf saat dihubungi tim media ini, Minggu (7/6/2026) malam.

Keputusan tetap melanjutkan perjalanan tersebut bukan tanpa alasan. Turnamen Watutura Cup II tahun ini menjadi salah satu ajang pembinaan sepak bola usia dini terbesar di kawasan Flores bagian tengah dengan melibatkan sedikitnya 29 tim dari empat kabupaten, yakni Ngada, Nagekeo, Ende, dan Manggarai.

Besarnya jumlah peserta menunjukkan tingginya minat dan antusiasme anak-anak NTT untuk berprestasi melalui olahraga sepak bola. Di tengah keterbatasan sarana dan tantangan geografis yang masih dihadapi sejumlah daerah, turnamen ini menjadi ruang penting bagi lahirnya bibit-bibit atlet masa depan dari wilayah timur Indonesia.

Menurut Farid Makruf, pembinaan generasi muda tidak dapat hanya dilakukan melalui ruang kelas. Lapangan olahraga juga menjadi tempat penting untuk menanamkan nilai disiplin, kerja sama, sportivitas, kepemimpinan, dan semangat pantang menyerah.

“Kalau anak-anak sudah berlatih dan menunggu, tentu kita harus menghargai semangat mereka. Mereka adalah masa depan daerah dan masa depan bangsa,” ujarnya.

Turnamen yang dipusatkan di Lapangan Mini SDN Watutura, Bajawa, tersebut mengusung semangat pengembangan kreativitas, solidaritas, dan prestasi olahraga di kalangan pelajar sekolah dasar. Berdasarkan proposal kegiatan, kompetisi ini terbuka bagi peserta usia di bawah 12 tahun dari Kabupaten Ngada maupun daerah tetangga.

Bagi masyarakat Flores, Watutura memiliki nilai historis tersendiri. Kawasan Bajawa yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Ngada dahulu merupakan wilayah yang menaungi kawasan yang saat ini telah berkembang menjadi Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo. Tidak heran apabila turnamen ini mampu menarik partisipasi peserta dari berbagai daerah dan menjadi ajang silaturahmi sekaligus pembinaan olahraga lintas kabupaten.

Dukungan Mayjen TNI Dr. Farid Makruf terhadap Watutura Cup II juga mendapat perhatian luas masyarakat setempat. Sejumlah baliho penyambutan telah terpasang di sejumlah titik strategis menjelang pembukaan turnamen sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam mendukung pengembangan olahraga usia dini di Flores.

Pengamat pembangunan daerah menilai kehadiran figur nasional dalam kegiatan pembinaan olahraga di daerah memiliki arti penting. Selain memberikan motivasi kepada peserta, dukungan tersebut juga memperkuat pesan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga harus menjangkau daerah-daerah yang selama ini berada jauh dari pusat perhatian.

Di tengah gangguan aktivitas penerbangan akibat erupsi Gunung Lewotobi, perjalanan sembilan jam yang ditempuh Mayjen Farid Makruf menuju Ngada menjadi simbol bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan komitmen nyata, bukan sekadar retorika.

Saat peluit pertama Watutura Cup II dibunyikan pada Senin (8/6/2026) siang, yang dipertandingkan bukan hanya pertandingan sepak bola antar pelajar. Lebih dari itu, turnamen ini menjadi panggung harapan bagi puluhan tim muda dari Ngada, Nagekeo, Ende, dan Manggarai untuk mengejar mimpi, mengasah karakter, dan membuktikan bahwa NTT memiliki potensi besar melahirkan generasi berprestasi bagi Indonesia.(*)

(Tommy/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru