Bogor, Jawa Barat – Kementerian Transmigrasi mendorong Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi motor penggerak industrialisasi di kawasan transmigrasi melalui pemanfaatan hasil riset yang berorientasi pada pengembangan produk unggulan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan, pelaksanaan TEP 2026 merupakan kelanjutan dari riset yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Berbeda dengan tahap awal yang berfokus pada pemetaan potensi, tahun ini TEP diarahkan untuk merealisasikan hasil penelitian menjadi program yang mampu menggerakkan ekonomi di kawasan transmigrasi.
“TEP tahun ini untuk merealisasikan perintisan produk unggulan di kawasan transmigrasi,” ujar Viva Yoga seusai memberikan pembekalan kepada 1.476 anggota TEP 2026 di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/7/2026).
Menurut Viva, hasil riset tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan ekonomi sekaligus industrialisasi berbasis potensi lokal di kawasan transmigrasi. Temuan para peneliti tidak hanya dimanfaatkan oleh Kementerian Transmigrasi, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, serta lembaga terkait dalam menyusun program pembangunan.
“Semua tindak lanjut hasil riset harus memberi manfaat bagi pengembangan ekonomi, sosial, dan industri di kawasan transmigrasi,” katanya.
TEP 2026 melibatkan 1.476 civitas akademika dari 10 perguruan tinggi, terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana. Mereka berasal dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Sebelum diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi, seluruh anggota memperoleh pembekalan mengenai kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta karakteristik wilayah tujuan. Pembekalan tersebut dinilai penting agar para peserta mampu memahami potensi dan tantangan setiap kawasan sehingga program yang dijalankan lebih tepat sasaran.
Selain itu, para anggota TEP diharapkan dapat membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut dinilai menjadi faktor penting agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Viva berharap kehadiran TEP 2026 mampu melahirkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang mendorong tumbuhnya industri lokal, meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, membuka lapangan kerja, serta mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi secara berkelanjutan.
“Hasil TEP diharapkan menjadi rekomendasi bagi penyusunan program pembangunan kawasan transmigrasi pada masa mendatang,” ujar Viva.(*)
(Ardi W/Sulaiman)














