“Wa lillāhil-masyriqu wal-maghrib, fa aynamā tuwallū faṡamma wajhullāh, innallāha wāsi‘un ‘alīm“ — “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. “(QS. Al-Baqarah: 115)
Era mutakhir artificial intelligence atau akal imitasi (AI) telah menumbuhkan dilema moral sekaligus paradoks eksistensial manusia.
Pertanyaan mendasar muncul yakni bagaimana tauhid, sebagai fondasi iman Islam, berhadapan dengan teknologi yang mampu meniru kecerdasan manusia?
Dua karya akademis mutakhir memberi celah jawaban yang cukup menarik.
Pertama, Islamic Perspectives on God and Monotheism (Brill, 2026) yang diedit oleh Wahid M. Amin, Sajjad Rizvi, dan Aaron W. Hughes menyoroti kompleksitas doktrin tauhid dari perspektif Sunni, Syiah, dan filsafat Islam klasik.
Tidak hanya membahas perdebatan teologis tradisional, buku ini juga membuka ruang refleksi kontemporer, termasuk bagaimana AI memengaruhi cara manusia memahami konsep ketuhanan.
Salah satu kutipan penting berbunyi, “Tantangan kecerdasan buatan terletak bukan pada kemampuannya untuk menyaingi peran ilahi, tetapi pada kemampuannya untuk membentuk kembali pemahaman diri manusia sebagai agen moral di bawah Tuhan.”
Kutipan ini menegaskan bahwa AI bukan ancaman terhadap Tuhan, melainkan ujian bagi manusia untuk meninjau kembali peran mereka sebagai khalifah.
Dalam perspektif teologi Islam, manusia adalah subjek moral yang diberi akal dan tanggung jawab.
Kehadiran AI menimbulkan pertanyaan baru, apakah keputusan algoritmik dapat dianggap sebagai bagian dari agensi manusia, atau justru mengaburkan peran manusia sebagai subjek moral di bawah Tuhan?
Buku ini menekankan bahwa “AI memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali tata bahasa kekuasaan ilahi, bukan karena mesin bertindak seperti dewa. Akan tetapi, karena mereka memaksa kita untuk memikirkan kembali apa artinya bertindak sebagai manusia di hadapan Tuhan.”
Dengan demikian, tauhid tetap relevan, tetapi harus dibaca ulang dalam konteks dunia yang semakin dikuasai teknologi.
Sebagai bandingan kritis dalam sains terapan, Bridging Bioscience and Islam: Engaging Big Questions about the Human Being (Springer, April 2026) yang diedit oleh Aasim I. Padela menghubungkan bioetika Islam dengan sains modern, khususnya bioteknologi dan kedokteran.
Buku kedua membahas isu genetika, rekayasa tubuh, teknologi medis berbasis AI, dan bioetika kontemporer dengan pendekatan multidisipliner.
Padela menekankan bahwa biosains modern tidak hanya memengaruhi tubuh manusia, tetapi juga cara kita memahami diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Ia menulis, “Ilmu biologi memaksa kita untuk meninjau kembali antropologi teologis, dan bertanya kembali apa artinya menjadi manusia dalam terang intervensi teknologi.”
Kehadiran AI dalam kedokteran, misalnya, tidak menyaingi pengetahuan ilahi, tetapi menantang tanggung jawab manusia sebagai agen moral.
Padela menegaskan bahwa, “Bioetika Islam harus bergulat dengan realitas ganda kemajuan ilmiah dan pertanggungjawaban ilahi.”
Dengan kata lain, setiap kemajuan teknologi harus dipertimbangkan dalam kerangka tanggung jawab spiritual.
Kedua karya ini memperlihatkan bahwa tauhid dan antropologi Islam tidak berhenti pada perdebatan klasik, melainkan terus bergerak menghadapi tantangan modern.
AI dan biosains bukan ancaman terhadap Tuhan, melainkan ujian bagi manusia untuk tetap bertindak sebagai subjek moral.
Dengan demikian, tauhid tetap menjadi fondasi iman, tetapi harus dibaca ulang dalam terang teknologi yang mengubah cara kita memahami diri, Tuhan, dan dunia.(*)
#coverlagu: Lagu “Kalimah Tauhid” adalah salah satu karya populer dari grup nasyid Malaysia, Rabbani. Grup ini berdiri pada tahun 1997 setelah berpisah dari Nada Murni, dan hingga kini tetap aktif.
#credit foto dua cover buku yang dikutip dan aktivitas komputer dari Youtube @the_islam_motivation.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan senior








