Surabaya, Jawa Timur – Dinamika internal Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35 pada Agustus 2026 mulai menunjukkan arah yang lebih jelas.
Berbagai poros kekuatan yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri kini memasuki fase konsolidasi, membuka peluang terbentuknya koalisi besar yang berpotensi menentukan hasil akhir kontestasi.
Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menilai bahwa pertarungan kali ini tidak lagi sekadar berbasis figur, melainkan ditentukan oleh kemampuan membangun komunikasi dan konsolidasi antar poros.
“Kalau kita cermati, arah Muktamar sudah mulai terlihat. Kuncinya ada pada bagaimana poros-poros ini saling berkomunikasi dan membangun titik temu,” ujar Gus Lilur, Kamis (30/4/2026).
Menurut Gus Lilur, salah satu ciri utama dinamika kali ini adalah menguatnya pola pasangan antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam.
Meskipun Rais Aam secara formal dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), dalam praktiknya konfigurasi dukungan tetap dipengaruhi oleh relasi antar kandidat dan jaringan yang mengiringinya.
“Secara kultural dan politik organisasi, kita melihat ada kecenderungan kuat menuju format pasangan. Ini yang membuat konsolidasi menjadi sangat penting,” jelasnya.
Enam Poros Utama Mulai Mengerucut
Gus Lilur memetakan sedikitnya enam poros yang saat ini aktif membangun kekuatan.
Poros pertama adalah kubu Ketua Umum petahana Yahya Cholil Staquf yang tengah mencari figur Rais Aam untuk memperluas dukungan.
Poros kedua berasal dari Rais Aam petahana Miftachul Akhyar bersama Sekjen Saifullah Yusuf yang mulai menyiapkan alternatif calon Ketua Umum.
Poros ketiga adalah figur Menteri Agama Nazaruddin Umar yang disebut tengah menjajaki kemungkinan membangun pasangan strategis.
Poros keempat datang dari jaringan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan IKA PMII yang relatif solid, dengan dukungan kepada Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.
Sementara dua poros lainnya berasal dari basis Jawa Timur, termasuk yang mendorong KH Abdul Hakim Mahfuz serta poros alternatif dengan figur Marzuki Mustamar.
“Peta ini belum final, tetapi sudah mulai mengerucut. Konsolidasi akan menjadi faktor penentu dalam beberapa bulan ke depan,” kata Gus Lilur.
Dalam analisisnya, Gus Lilur melihat peluang terbentuknya koalisi antar poros sebagai faktor kunci.
Ia menyebut jaringan PKB-IKA PMII memiliki basis suara sekitar 250 secara nasional, sementara jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama berada di kisaran 130 suara.
Jika terjadi komunikasi yang efektif antara kedua kekuatan tersebut, maka potensi dukungan yang terbentuk akan sangat signifikan.
Namun demikian, ia menekankan bahwa dinamika internal masing-masing poros tetap menjadi variabel penting, termasuk terkait figur yang akan diusung sebagai Ketua Umum.
“Koalisi itu sangat mungkin, tetapi tetap bergantung pada kompromi dan kesepahaman di tingkat elite,” ujarnya.
Dinamika Tetap Terbuka
Meski arah mulai terlihat, Gus Lilur mengingatkan bahwa Muktamar NU selalu menyimpan ruang kejutan.
Ia menilai poros petahana maupun kekuatan kultural lainnya tetap memiliki peluang untuk membangun konfigurasi alternatif yang kompetitif.
“Dalam tradisi NU, dinamika bisa berubah cepat. Apa yang terlihat hari ini belum tentu sama dengan hasil akhirnya,” katanya.
Di tengah menguatnya konsolidasi politik, Gus Lilur menegaskan pentingnya menjaga kemandirian NU.
Ia mengingatkan agar Muktamar ke-35 tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan kekuasaan yang dapat merusak marwah organisasi.
“NU harus tetap berdiri sebagai organisasi yang mandiri. Jangan sampai terseret terlalu jauh ke dalam kepentingan politik praktis,” tegasnya.
Menurutnya, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum untuk memperkuat posisi NU sebagai kekuatan moral bangsa.
Dengan peta kekuatan yang mulai terbaca dan konsolidasi yang terus berlangsung, Muktamar NU ke-35 dipandang sebagai titik penting dalam menentukan arah organisasi ke depan.
Apakah akan terbentuk koalisi besar yang dominan, atau justru muncul konfigurasi alternatif, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Namun satu hal yang pasti, seperti disampaikan Gus Lilur, arah NU ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana para aktor mampu membangun komunikasi, konsolidasi, dan menjaga nilai-nilai dasar organisasi.(*)
Editor: Sulaiman













