Gentle Parenting Bukan Sekadar “Lembut”, Pakar UNAIR Ingatkan Pentingnya Batasan Tegas

Edukasi93 Views

Surabaya, Jawa Timur – Perdebatan mengenai pola asuh anak kembali mencuat seiring maraknya tren gentle parenting, terutama di kalangan generasi Z. Namun, pendekatan ini kerap disalahpahami sebagai pola asuh yang serba membebaskan anak.

Pakar psikologi perkembangan dari Universitas Airlangga, Dr. Nur Ainy Fardana, M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa gentle parenting bukan sekadar pendekatan “lembut”, melainkan menuntut keseimbangan antara empati, komunikasi, dan ketegasan dalam menetapkan batasan.

“Pendekatan ini menekankan hubungan hangat dan penuh empati antara orang tua dan anak, tanpa mengandalkan hukuman keras. Tujuannya bukan hanya kepatuhan, tetapi membantu anak berkembang secara emosional, sosial, dan moral dengan kesadaran diri,” ujarnya.

Menurut Nur, terdapat lima prinsip utama dalam gentle parenting, yakni empati, komunikasi yang penuh hormat, disiplin tanpa kekerasan, kesadaran emosi, serta konsistensi dalam batasan.

Ia menekankan, empati dan komunikasi bukan sekadar pelengkap. Tanpa keduanya, pola asuh ini berisiko bergeser menjadi permisif atau justru kembali pada pola otoriter.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku anak berkaitan erat dengan tahap emosional dan kognitifnya. Empati membantu orang tua memahami latar belakang perilaku anak, sementara komunikasi menjadi sarana membimbing dan mengarahkan.

“Keduanya harus berjalan beriringan agar berdampak jangka panjang, seperti kemampuan anak mengendalikan diri, terbentuknya internalisasi nilai, serta hubungan yang terbuka antara orang tua dan anak,” jelasnya.

Berbeda dengan pola asuh yang mengandalkan disiplin keras, gentle parenting memandang anak sebagai individu yang sedang belajar mengelola emosi dan perilaku. Fokusnya adalah pembentukan kesadaran, empati, dan regulasi diri melalui komunikasi, validasi emosi, serta batasan yang konsisten.

Sebaliknya, dalam pendekatan disiplin keras, anak dituntut patuh terhadap aturan orang tua. Perilaku yang dianggap salah sering kali dikoreksi melalui bentakan, ancaman, bahkan hukuman fisik atau verbal. Emosi anak pun kerap dipandang sebagai gangguan yang harus segera dihentikan.

Lebih jauh, Nur menilai gentle parenting berpotensi membantu anak tumbuh mandiri dan percaya diri, selama diterapkan secara konsisten dan tidak mengabaikan aturan.

“Anak dibimbing untuk memahami diri, emosi, serta konsekuensi secara bertahap. Bukan dibiarkan tanpa batasan,” katanya.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa pendekatan ini bukan tanpa tantangan. Orang tua dituntut memiliki kesadaran diri, konsistensi, serta kesiapan emosional yang tinggi.

Secara keseluruhan, gentle parenting dinilai sebagai strategi pengasuhan yang efektif dalam jangka panjang, karena sejalan dengan pola asuh authoritative yang menyeimbangkan kehangatan dan kontrol.

“Pengasuhan ini menekankan aspek afeksi untuk membangun komunikasi dan empati dengan anak,” ujar Nur.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *