Mayjen TNI Farid Makruf, M.A.: Sang Jenderal Rendah Hati

Diferensia13402 Views

Mas Ustadz, saya mau berpartisipasi dalam giat sosial GPAB tapi tolong nama saya tak perlu disebut.”

Begitulah kalimat pertama yang masuk ke nomor whatsapp saya dari seorang Jenderal TNI dari matra angkatan darat, beberapa tahun lalu. Yah, kami dipertemukan dalam sebuah grup whatsapp yang didirikan oleh orang baik, seorang peneliti LIPI (sekarang jadi bagian BRIN, red.) senior yang kini telah wafat.

Sejak saat itu yang saya lupa tahun persisnya, beliau rajin dan rutin mentransfer sejumlah dana untuk giat GPAB mulai program peduli yatim piatu, pembangunan masjid dan renovasi beberapa gedung madrasah dan pesantren, program sumur bor, santunan guru pesantren dan guru ngaji, peduli anak sekolah mulai dari sumatera hingga Papua.

Wajahnya sangar, tapi hatinya luar biasa lembut. Wajahnya khas Madura dan tegas, tentu karena beliau adalah TNI, lebih-lebih sudah Pati dengan tanda bintang di pundaknya. Mayor Jenderal. Tepatnya Mayjen TNI Farid Makruf, M.A., nama lengkapnya.

Setelah sekian tahun, tiba-tiba, seorang senior berpangkat Kolonel menelepon saya. Dia bertanya apakah kenal dengan Wairjen (pangkat yang disandang sang jenderal kala itu). Setelah saya minta dikirim foto ke nomor Whatsapp, baru sadar bukan dari foto tapi nama. Yah, beliau, saat saya ditelepon senior tersebut, tengah menjabat sebagai Wakil Inspektorat Jenderal TNI. Terang saja, saya bilang bahwa memang kenal tapi tak pernah bertatap muka. Bahkan saya baru tahu beliau asli Madura justru dari senior saya itu.

Kami tidak pernah bertatap muka. Tapi program-program filantropi GPAB (komunitas pegiat filantropi yang saya dirikan sejak lama) senantiasa mendapatkan suntikan “dana sekadarnya” (istilah beliau yang menunjukkan betapa rendah hatinya sang jenderal), yang kemudian kami salurkan ke berbagai program di beberapa daerah termasuk beasiswa anak yatim di Bangkalan, Sidoarjo hingga Lumajang. Tanpa sekalipun bertemu muka. Ini hanya bisa terjadi jika beliau memiliki hati tulus dan ikhlas. Kami salurkan ke berbagai program karena beliau amanahkan, terserah mau dialokasikan ke program mana, manut pada kami dari GPAB. Ini luar biasa. Jenderal, tapi jauh dari kesan menunjuk atau mengatur atau apalah itu namanya.

Lalu, tibalah waktunya beliau mendapatkan amanah baru sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya di Jawa Timur. Ini saya tidak tahu juga, maksudnya takdir bisa seperti ini. Jadilah, untuk pertama kalinya kami bertatap muka di Surabaya. Saya nikmati saja “permainan” takdirNya.

Pertama bertemu yang saya amazed adalah kalimat “Mas Ustadz, sudah sholat?” Coba dibayangkan. Ini diluar ekspektasi saya bertemu seorang jenderal dengan dua bintang di pundaknya untuk pertemuan darat pertama kali. Tapi pertanyaan pertamanya, apakah sudah sholat atau belum.

Lalu, sholatlah kami dan beliau meminta saya menjadi imam. Sekali lagi saya kian amazed karena biasanya kalau ketemu pejabat itu, mereka yang maju secara natural untuk jadi imam. Sekali lagi, Ini menunjukkan beliau paham fiqih agama plus rendah hati. Yang ternyata memang calon santri tetapi keterima Akmil pada tahun 1991, lalu memilih mengabdi pada bangsa dan negara lewat jalur TNI.

Sejak saat itu, jadilah intensitas beliau berinteraksi untuk program sosial GPAB semakin gencar. Namun tetap, tanpa ekspose nama atau sesumbar apapun, padahal beliau adalah Pangdam kali ini. Inilah yang semakin membuat saya kagum.

Hingga tiba waktunya, beliau ingin berdiskusi tentang beberapa topik. Kebetulan saya menjadi pimpinan atau tepatnya membantu sebuah lembaga penelitian dan konsultasi di bidang-bidang sosial dan sejenisnya. Beliau ingin berdiskusi tentang Jawa Timur. Saya mengusulkan untuk mengajak guru saya di FISIP Unair. Beliau setuju. Singkat cerita, kami bertemu dan kesan guru saya terhadap sang jenderal adalah, “Gus, ini baru pertama saya bertemu jenderal TNI tapi yang ditanya adalah teori. Diskusi nyambung dan akhirnya presentasi saya berguna semua. Padahal beliau jenderal. Ternyata intelektualnya luar biasa. Paham teori dan diskusi berjalan gayeng.”

Dari momentum diskusi itulah, kekaguman saya pada beliau bertambah. Kekaguman guru saya padanya, menambah keyakinan saya bahwa beliau adalah jenderal intelektual. Yah, jenderal intelektual yang rendah hati.

Namun, selama menjabat Pangdam V/Brawijaya, aksi dan program beliau luar biasa. Ada yang secara resmi karena mengikuti aturan ketat protokoler harus tereskpose, namun lebih banyak yang tidak dan itu semua, dalam amatan saya, luar biasa untuk menunjukkan bahwa konsep TNI Manunggal dengan Rakyat, tidak beliau kampanyekan atau pekikkan di acara formal semata karena jabatan yang diembannya, melainkan beliau praktekkan. Baik terekspose atau tidak.

Saat ini, sebagaimana ditulis oleh kolomnis ternama Abah Dahlan Iskan, beliau tengah studi doktoral di salah satu universitas ternama di tempat beliau dulu menjabat Danrem. InsyaAllah bulan depan sudah resmi doktor. Doktor yang benar-benar riset. Terjun ke lapangan untuk penelitian. Saya tahu persis hal tersebut. Bertemu dan berdiskusi dengan para akademisi, tokoh masyarakat hingga rakyat jelata. Mondar-mandir memanfaatkan waktu istirahat atau waktu luang beliau yang tak sedikit.

Kekaguman saya dan menguatkan julukan saya pada beliau sebagai Jenderal Intelektual adalah beliau menulis buku. Yah menulis. Saya memiliki dua diantaranya, meskipun dari penelusuran ternyata pernah menulis sejak muda, bukunya yang kini draftnya hilang entah kemana, pernah menulis buku mengenai teknik menembak. Intelektualitas seakan jadi image luar biasa melekat pada dirinya.

Ternyata itu bukan yang terakhir, beliau akan menulis dan tengah menyiapkan buku baru. Ini luar biasa. Bayangkan anda memiliki pejabat yang tak hanya berpengalaman kerja di lapangan, tapi matang secara intelektual juga membuat karya. Pesan Tuhan dalam 5 ayat pertama dari agama yang beliau anut, diejawantah dengan apik. Pembaca yang baik. Pemikir luar biasa. Menulis beberapa buku sebagai legacy luar biasa yang tak ternilai harganya.

Entahlah, saya melihat beliau sebagai jenderal TNI yang paket lengkap. Prajurit sejati, rendah hati dan tetap fokus untuk meng-upgrade diri.

Kini, beliau yang tengah menjabat sebagai Kepala Staf Kostrad, akan berpindah lapangan pengabdiannya ke Lemhanas.

Karena pengabdiannya masih lumayan lama di TNI, bolehkan saya membayangkan bahwa kelak beliau akan menjadi Panglima TNI?

Ketika itu tiba, saya membayangkan betapa TNI kita yang kini modern dan sangat bagus, akan semakin luar biasa dan maju dibawah kepemimpinan seorang Jenderal TNI yang tidak hanya rendah hati dan intelektuil sejati, namun tulus ikhlas berbuat untuk bangsa dan negara, TNI dan rakyat sebagaimana terlihat pada sosok Jenderal (HOR) Purnawirawan TNI Prabowo Subianto.

Meski, jika harus merujuk ke sana, artinya akan banyak ujian dan cobaan menerpa, dan saya tidak tahu apa itu, karena keterbatasan pengetahuan saya sebagai masyarakat sipil yang amazed pada sosok jenderal TNI.

Sekali lagi, bolehkan saya berdoa dan bercita-cita agar ke depan bangsa dan negara Indonesia tercinta, memiliki Panglima TNI seperti beliau? Semoga.

 

BUSTOMI MENGGUGAT

Jurnalis dan Pendiri Gerakan Filantropi GPAB

Sumber: artikel asli 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *