
Surabaya, Jawa Timur – Universitas Airlangga (UNAIR) mengukuhkan 980 lulusan dari jenjang ahli madya, sarjana, magister, profesi, dan doktor dalam wisuda periode ke-262 di Airlangga Convention Center, Kampus MERR-C, Surabaya, Sabtu (20/6/2026).
Wisuda kali ini berlangsung dalam suasana istimewa. Di hadapan para lulusan dan keluarga, Rektor UNAIR Muhammad Madyan mengumumkan capaian terbaru kampus tersebut dalam pemeringkatan QS World University Rankings 2027. UNAIR menempati peringkat ke-276 dunia dan berada di posisi ketiga perguruan tinggi terbaik di Indonesia.
Capaian itu menempatkan UNAIR di atas 81,7% perguruan tinggi dunia dari total 8.808 institusi yang dievaluasi dalam pemeringkatan tersebut. ”Untuk pertama kalinya, UNAIR menempati peringkat ketiga terbaik di Indonesia,” ujar Madyan yang disambut tepuk tangan para wisudawan dan keluarga.
Madyan mengatakan, capaian tersebut bukan semata-mata angka dalam pemeringkatan global. Lebih dari itu, capaian itu menjadi penanda bahwa perguruan tinggi dari Surabaya mampu memperluas pengaruh akademiknya di tingkat dunia tanpa kehilangan pijakan pada persoalan masyarakat di sekitarnya.
Ia menilai, menjadi bagian dari UNAIR berarti mewarisi daya juang Kota Surabaya. Semangat itu, menurut dia, perlu dibawa para lulusan ketika memasuki dunia yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, dan semakin dipengaruhi perkembangan kecerdasan artifisial. ”Menjadi bagian dari UNAIR berarti mewarisi semangat juang arek-arek Suroboyo yang tidak pernah gentar menghadapi tantangan,” kata Madyan.
Dalam pidatonya, ia juga menyampaikan penghormatan kepada orang tua dan wali para wisudawan. Mereka, kata Madyan, merupakan pihak yang kerap tidak terlihat dalam proses panjang pendidikan, tetapi memiliki peran menentukan dalam melahirkan lulusan baru UNAIR. ”Merekalah pahlawan sesungguhnya. Doa, kerja keras, dan keteguhan mereka telah melahirkan Ksatria Airlangga baru yang siap mengabdi bagi masyarakat,” ujarnya.
Jangkar di Tengah Disrupsi
Madyan mengingatkan bahwa para lulusan memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial ketika perubahan teknologi berlangsung semakin cepat. Kecerdasan artifisial, otomatisasi, dan perubahan pola ekonomi, menurut dia, dapat membuka peluang baru sekaligus menghadirkan ketidakpastian.
Karena itu, gelar akademik tidak boleh dipahami hanya sebagai tiket memasuki pasar kerja. Gelar, kata dia, harus menjadi dasar untuk membangun keteguhan nilai dan kemampuan menghadapi perubahan. ”Di tengah badai disrupsi teknologi, sebuah kapal tidak bertahan karena berhenti berlayar, melainkan karena memiliki jangkar yang kokoh agar tidak terseret arus ke arah yang keliru,” kata Madyan.
Ia menambahkan, jangkar yang harus dimiliki setiap lulusan adalah etika dan kompetensi. Kompetensi memungkinkan lulusan beradaptasi dengan perubahan, sedangkan etika memastikan kemampuan itu digunakan untuk tujuan yang berpihak pada kemanusiaan.
Pesan itu menjadi relevan di tengah kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi dapat membuat manusia sekadar menjadi pelengkap dari mesin. Bagi UNAIR, kemajuan tidak cukup diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kemampuan manusia menjaga tanggung jawab sosialnya.
Madyan juga menitipkan pesan agar para lulusan tidak menjadikan pendidikan tinggi sebagai jalan untuk menjauh dari persoalan masyarakat. Ilmu pengetahuan, menurut dia, harus hadir sebagai jawaban atas kebutuhan nyata warga.
Lulusan bidang kesehatan, misalnya, diharapkan mampu menjawab persoalan layanan kesehatan hingga ke wilayah terpencil. Sementara itu, lulusan bidang ekonomi dan sosial diharapkan dapat menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat serta memperluas akses keadilan bagi kelompok rentan. ”Jadikan ilmu Saudara sebagai jawaban atas persoalan kesehatan di pelosok negeri, sebagai penggerak ekonomi yang memberdayakan masyarakat, dan sebagai instrumen keadilan bagi mereka yang membutuhkan perlindungan,” ujar Madyan.
UNAIR pun berharap para lulusan baru terus menjaga hubungan dengan almamater melalui Ikatan Alumni Universitas Airlangga. Baik sebagai profesional, akademisi, pelaku usaha, maupun penggerak sosial, mereka diharapkan membawa semangat kampus ke ruang-ruang pengabdian yang lebih luas.(*)
(Maia Ch/Sulaiman)










