
Jombang, Jawa Timur – Riuh suara anak-anak berpadu dengan semangat para guru dan orang tua yang mendampingi. Sejak pagi, sekitar seribu siswa taman kanak-kanak (TK) dan raudhatul athfal (RA) dari 38 lembaga pendidikan se-Kecamatan Diwek memadati Lapangan Ketanon, Sabtu (30/5/2026), untuk mengikuti Gebyar Manasik Haji.
Dengan mengenakan busana muslim dan perlengkapan manasik, anak-anak tampak antusias mengikuti setiap tahapan ibadah haji yang diperagakan secara sederhana dan menyenangkan. Kegiatan ini digelar oleh Ikatan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Muslimat Nahdlatul Ulama (IGPAUDMNU) Anak Cabang Diwek sebagai bagian dari pembelajaran keagamaan sejak usia dini.
Ketua IGPAUDMNU Diwek, Lailatun Nikmah, mengatakan bahwa manasik haji menjadi sarana bagi anak-anak untuk mempraktikkan materi rukun Islam yang sebelumnya telah dipelajari di sekolah. “Di sekolah masing-masing anak-anak sudah dikenalkan tentang rukun Islam. Untuk ibadah haji, kami mengajak mereka mempraktikkannya bersama-sama melalui kegiatan ini,” ujarnya.
Menurut dia, Gebyar Manasik Haji telah menjadi agenda tahunan yang secara konsisten diselenggarakan sejak tahun 2000. Sebelum mengikuti kegiatan bersama, setiap lembaga pendidikan juga memberikan pembekalan kepada peserta sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan mereka. “Tentunya bacaan dan materi disesuaikan dengan kemampuan anak-anak agar mudah dipahami dan menyenangkan untuk diikuti,” kata guru TK Ar-Rusydi Ketanon tersebut.
Kegiatan itu dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang, Nur Khozin. Ia memberikan apresiasi atas konsistensi IGPAUDMNU Diwek dalam menghadirkan pembelajaran keagamaan yang aplikatif bagi anak usia dini. “Saya mengapresiasi kegiatan yang digelar IGPAUDMNU Diwek ini. Sangat baik karena memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi anak-anak,” ujarnya.
Wakil Ketua Pimpinan Anak Cabang Muslimat NU Diwek, Junita Erma Zakiya, menilai manasik haji menjadi metode pembelajaran yang efektif karena menggabungkan unsur edukasi dan kegembiraan. “Anak-anak tidak hanya menerima teori di dalam kelas, tetapi juga mengalami langsung proses pembelajaran melalui praktik yang menyenangkan,” katanya.
Anggota DPRD Kabupaten Jombang itu berharap kegiatan semacam ini terus dikembangkan dengan berbagai inovasi agar semakin memberi manfaat bagi peserta didik, guru, maupun orang tua.
Ia juga berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh keceriaan. “Semoga anak-anak, guru, dan para wali murid yang mendampingi sama-sama merasakan kebahagiaan dalam kegiatan ini,” tuturnya.
Sepanjang kegiatan, para peserta terlihat mengikuti setiap rangkaian manasik dengan tertib dan penuh semangat. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua MWCNU Diwek, KH Hamdi Soleh.
Bagi anak-anak itu, manasik haji bukan sekadar simulasi ibadah. Melalui pengalaman langsung yang dikemas menyenangkan, mereka belajar mengenal salah satu rukun Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.(*)
(Mukani/Sulaiman)













