Mataram, Nusa Tenggara Barat – Pembinaan usia dini menjadi perhatian utama dalam upaya mendorong prestasi pacuan kuda Nusa Tenggara Barat (NTB) ke level nasional. Arah baru tersebut mengemuka saat Ketua Harian DPP Pordasi Pacu Eddy Wijaya melantik Pengurus Pordasi Pacu NTB periode 2026-2030 di Gedung Sangkareang, Mataram, Kamis (13/8/2026).
Dalam pelantikan tersebut, kepemimpinan Pordasi Pacu NTB dipercayakan kepada Lalu Hizzi, S.Pd. Kepengurusan baru dituntut tidak sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi membangun sistem pembinaan yang mampu mengubah potensi joki muda NTB menjadi kekuatan prestasi nasional.
Eddy Wijaya menegaskan, NTB memiliki modal besar berupa keberanian dan bakat para joki muda. Potensi tersebut, menurut dia, harus ditempa melalui pembinaan yang terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan.
“Potensi joki-joki muda NTB yang berani dan berbakat adalah modal dasar yang luar biasa. Namun bakat alami saja tidak cukup. Harus disertai sistem pembinaan yang terstruktur, berjenjang, dan berkelanjutan,” ujar Eddy.
Karena itu, Eddy mendorong kepengurusan baru segera menyusun program prioritas, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kompetensi pelatih hingga penerapan standar keselamatan yang ketat.
Menurut dia, pembinaan tidak boleh berhenti pada munculnya talenta-talenta berbakat di lintasan. Setiap potensi harus memiliki jalur pembinaan yang jelas agar dapat berkembang menjadi atlet berprestasi sekaligus memiliki kemampuan yang terukur.
Pentingnya pembinaan usia dini juga menjadi pesan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman yang disampaikan melalui sambutan tertulis dan dibacakan Widodo Edi Sektianto.
KONI Pusat menilai joki cilik NTB merupakan aset penting bagi masa depan olahraga pacuan kuda nasional. Karena itu, pembinaan sejak usia dini harus ditempatkan sebagai prioritas.
“Joki cilik NTB adalah aset emas bangsa. Pembinaan usia dini wajib menjadi prioritas utama. Tanpa fondasi yang kuat sejak awal, prestasi gemilang di tingkat nasional tidak akan tercapai secara konsisten,” tegas Widodo membacakan pesan Marciano.
Selain aspek pembinaan atlet, KONI Pusat juga menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang profesional, transparansi penganggaran serta sinergi antara organisasi olahraga, pemerintah daerah dan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus baru Pordasi Pacu NTB. Prestasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan joki dan kuda di lintasan, tetapi juga oleh kualitas sistem yang menopang proses pembinaan.
Bangun Sistem Pembinaan Berkelanjutan
Ketua Pordasi Pacu NTB periode 2026-2030 Lalu Hizzi menyatakan siap menjadikan pembinaan berjenjang sebagai fondasi utama kepengurusannya.
Program tersebut akan dimulai dari pencarian dan pemetaan bakat, pembinaan joki secara berkelanjutan, peningkatan kualitas pelatih hingga penguatan sumber daya manusia di berbagai lini.
“Kami akan merancang program pembinaan yang menyeluruh, mulai dari pencarian bakat, pelatihan berkelanjutan hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia di seluruh lini. Semua demi lahirnya prestasi pacuan kuda NTB yang berkelanjutan,” kata Lalu Hizzi.
Dengan kepengurusan baru dan arah pembinaan yang lebih terstruktur, Pordasi Pacu NTB diharapkan mampu menjadikan kekayaan talenta lokal sebagai kekuatan olahraga daerah sekaligus memasok joki-joki potensial bagi prestasi pacuan kuda Indonesia di tingkat nasional.
Pelantikan tersebut pun tidak sekadar menandai pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum untuk membangun fondasi baru pembinaan pacuan kuda NTB, dari bakat di lintasan menuju prestasi nasional.(*)
(Rudolf/Sulaiman)








