Banda Aceh, – Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh menjadi momentum penguatan iman sekaligus penumbuhan harapan bagi warga binaan. Kegiatan keagamaan tersebut dirangkai dengan pelaksanaan Shalat Jumat berjamaah, Jumat (16/1/2026), sebagai bagian dari pembinaan kepribadian berbasis spiritual.
Kegiatan dipusatkan di Masjid Miftahul Jannah Lapas Kelas IIA Banda Aceh dan diikuti seluruh warga binaan. Pelaksanaan berlangsung tertib dan khusyuk dengan pendampingan petugas pengamanan, sehingga suasana ibadah terjaga aman dan kondusif.
Dalam tausiyah yang disampaikan, penceramah mengulas makna perjalanan suci Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra dan Mikraj. Perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga peristiwa Mikraj ke Sidratul Muntaha dipahami sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Allah SWT dalam memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Rasulullah SAW.
Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah turunnya perintah kewajiban Shalat lima waktu. Ibadah yang pada awalnya diperintahkan sebanyak lima puluh waktu itu kemudian diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara lima puluh. Pesan tersebut menegaskan shalat sebagai fondasi keimanan, pembentuk kedisiplinan, serta sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bagi warga binaan, pesan Isra Mikraj tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah keagamaan, tetapi juga sebagai ajakan untuk memperbaiki diri dan menata kembali kehidupan. Nilai-nilai kesabaran, ketaatan, dan keteguhan iman menjadi bekal penting dalam menjalani masa pembinaan.
Pelaksanaan Shalat Jumat dan rangkaian peringatan Isra Mikraj berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Suasana religius yang tercipta mencerminkan komitmen Lapas Kelas IIA Banda Aceh dalam menghadirkan pembinaan yang tidak hanya menitikberatkan pada aspek keamanan, tetapi juga pada penguatan moral dan spiritual.
Melalui kegiatan ini, pihak lapas berharap warga binaan dapat meningkatkan kesadaran spiritual, memperdalam pemahaman nilai-nilai keislaman, serta menumbuhkan harapan untuk menjalani masa pembinaan dengan sikap yang lebih positif dan bertanggung jawab.(*)
(Zainal A/Sulaiman)











