Isra Mikraj dan Perubahan Sosial: Spiritualitas yang Melahirkan Tanggung Jawab Sosial

Religiusitas142 Views

 

Isra Mikraj merupakan peristiwa agung dalam tradisi Islam yang meneguhkan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah sekaligus menjadi fondasi kewajiban salat. Dalam perspektif keimanan, Isra Mikraj adalah mukjizat yang bersifat hakiki, bukan sekadar simbolik. Namun, makna peristiwa ini tidak berhenti pada dimensi transenden. Ia justru membawa konsekuensi etis yang nyata dalam kehidupan sosial umat.

Perintah salat yang diterima Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mikraj memiliki dimensi personal sekaligus sosial. Al-Qur’an menegaskan bahwa salat berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, salat bukan hanya relasi vertikal antara manusia dan Tuhan, melainkan juga mekanisme pembentukan akhlak sosial. Kesalehan ritual yang tidak tercermin dalam perilaku sosial pada dasarnya bertentangan dengan tujuan utama ibadah itu sendiri.

Dalam ajaran Islam, perubahan sosial selalu berangkat dari perubahan manusia. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Prinsip ini sejalan dengan pandangan para ulama bahwa pembenahan masyarakat dimulai dari kesadaran moral, akhlak, dan tanggung jawab kolektif. Pada titik ini, teori perubahan sosial dapat digunakan secara terbatas sebagai alat bantu analisis, bukan sebagai rujukan nilai.

Salat berjamaah, misalnya, mengajarkan prinsip kesetaraan yang tegas. Dalam satu saf, seluruh perbedaan status sosial, ekonomi, dan kekuasaan dilebur. Nilai ini selaras dengan ajaran Islam tentang keadilan dan persaudaraan. Ketika kesetaraan dalam ibadah tidak tercermin dalam kehidupan sosial, ekonomi, maupun kebijakan publik, di situlah muncul jurang antara ajaran agama dan praktik sosial umatnya.

Konteks Isra Mikraj yang terjadi setelah Nabi Muhammad SAW menghadapi tekanan, penolakan, dan kesedihan mendalam juga memberi pelajaran penting. Islam tidak memisahkan spiritualitas dari realitas sosial. Justru dalam situasi paling sulit, Allah memberikan penguatan iman sebagai bekal perjuangan Rasulullah dalam membangun tatanan masyarakat yang adil, beradab, dan berlandaskan tauhid.

Singgahnya Nabi di Masjidil Aqsa dalam peristiwa Isra Mikraj menegaskan keterkaitan iman dengan sejarah dan kemanusiaan. Masjidil Aqsa bukan hanya tempat suci yang diberkahi, tetapi juga simbol amanah peradaban. Islam mengajarkan bahwa kepedulian terhadap keadilan dan penderitaan manusia merupakan konsekuensi iman, bukan sikap politik yang bersifat sesaat.

Dalam konteks Indonesia hari ini, pesan Isra Mikraj menemukan relevansi yang kuat. Ketimpangan sosial, kemiskinan struktural, dan ketidakadilan dalam layanan publik bukan semata persoalan teknis, melainkan juga ujian moral kolektif. Spirit Isra Mikraj menuntut umat Islam menjadikan ibadah sebagai sumber etika sosial yang mendorong kejujuran, keberpihakan kepada kelompok rentan, serta keberanian menegakkan keadilan secara konstitusional dan bermartabat.

Karena itu, dalam Islam, momentum Isra Mikraj mengajarkan keseimbangan yang khas yakni menguatkan iman tanpa meninggalkan dunia, serta memperbaiki dunia tanpa kehilangan orientasi akhirat. Inilah spiritualitas Islam yang otentik yaitu ‘naik’ untuk mengokohkan tauhid, lalu ‘turun’ untuk menata kehidupan sosial. Di sanalah Isra Mikraj menemukan maknanya sebagai peristiwa iman yang hidup dan terus membimbing umat dalam menghadapi tantangan zaman. (*)

 

AGUNG NUGROHO

Direktur Jakarta Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *