Bank Indonesia Perkuat “Pertahanan Moneter”, Latih Da’i dan Mahasiswa sebagai Garda Edukasi Rupiah

Ekonomi49 Views

Surabaya, Jawa Timur – Bank Indonesia memperkuat ketahanan moneter nasional melalui pelatihan intensif Training of Trainers (ToT) “Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah” yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (14/2/2026). Program ini menyiapkan para pegiat dakwah dan mahasiswa sebagai garda depan edukasi publik dalam menjaga kedaulatan rupiah di tengah dinamika ekonomi modern dan ancaman kejahatan keuangan.

Sedikitnya 150 peserta mengikuti pelatihan yang berlangsung di Ruang Singosari, terdiri dari anggota Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), Majelis Tarjih Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia (DMI), serta mahasiswa yang tengah menjalani praktik kerja lapangan dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Mereka diproyeksikan menjadi pengganda kekuatan edukasi yang mampu menjangkau masyarakat hingga lapisan paling bawah.

Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Dadan Priyoko, menegaskan bahwa literasi rupiah merupakan bagian integral dari upaya menjaga stabilitas nasional.

“Para da’i dan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai komunikator publik. Menjelang Ramadhan, mereka diharapkan mampu menyampaikan edukasi tentang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara dan instrumen pemersatu bangsa,” ujarnya.

Program CBP Rupiah menitikberatkan pada tiga pilar utama. Pertama, Cinta Rupiah, yakni kemampuan mengenali ciri keaslian dan merawat uang sebagai aset negara. Kedua, Bangga Rupiah, yaitu kesadaran bahwa rupiah merupakan simbol kedaulatan nasional. Ketiga, Paham Rupiah, yaitu pemahaman tentang fungsi rupiah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung keberlangsungan negara.

Sejarah mencatat, lemahnya aktivitas ekonomi dan minimnya peredaran rupiah di wilayah perbatasan pernah berkontribusi pada hilangnya Pulau Sipadan dan Ligitan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kedaulatan moneter merupakan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan negara.

Selain penguatan literasi uang tunai, Bank Indonesia juga memperkenalkan sistem pembayaran digital nasional seperti QRIS dan BI-FAST. Sistem ini dirancang untuk mendukung prinsip transaksi modern yang cepat, aman, dan andal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem ekonomi digital regional.

Kerja sama lintas negara, termasuk dengan Singapura, Thailand, dan Malaysia, serta penjajakan dengan Jepang dan Korea Selatan, memungkinkan warga negara Indonesia melakukan transaksi digital lintas batas menggunakan QRIS. Langkah ini memperluas jangkauan rupiah dalam lanskap ekonomi global.

Namun demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa uang tunai tetap menjadi elemen vital dalam sistem keuangan nasional. Pendekatan co-existence diterapkan, di mana transaksi tunai dan digital berjalan berdampingan untuk membangun ekosistem less cash society yang tangguh dan inklusif.

Perwakilan IKADI Jawa Timur, Ustadz Sudayat Kosasih, menyebut pelatihan ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat kesadaran nasional melalui jalur edukasi keagamaan. “Rupiah bukan sekadar alat transaksi, tetapi simbol kedaulatan negara. Para da’i memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kesadaran ini kepada masyarakat,” ujarnya.

Senada dengan itu, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya, Riwelita, menilai pelatihan tersebut memperkuat pemahaman generasi muda tentang peran rupiah dalam sistem pertahanan ekonomi nasional.

Program ini menegaskan bahwa menjaga rupiah bukan hanya tanggung jawab lembaga keuangan, tetapi merupakan bagian dari pertahanan nasional yang melibatkan seluruh elemen bangsa, mulai dari institusi negara hingga masyarakat sipil.(*)

(Sulaiman Rhosyid/Jafar G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *