
Jakarta, – Kementerian Transmigrasi memperluas kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi berbasis ilmu pengetahuan dan riset. Melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, sebanyak 1.476 akademisi muda akan diterjunkan ke berbagai kawasan transmigrasi prioritas di Indonesia guna mengimplementasikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan pembangunan kawasan transmigrasi tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan administratif dan pembangunan fisik. Menurut dia, pengembangan kawasan membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan agar potensi ekonomi dan sumber daya yang dimiliki setiap daerah dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kementerian Transmigrasi perlu bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk merealisasikan program-program pembangunan kawasan transmigrasi,” kata Viva Yoga di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Program TEP merupakan kolaborasi antara Kementerian Transmigrasi dan sejumlah PTN unggulan. Setelah pada 2025 melibatkan Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, pada tahun ini kerja sama diperluas dengan menggandeng Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Menurut Viva Yoga, keterlibatan perguruan tinggi bertujuan menghadirkan inovasi dan solusi berbasis riset bagi pengembangan kawasan transmigrasi. Para peserta akan memetakan potensi ekonomi lokal sekaligus mendorong penerapan hasil penelitian yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Ilmu yang dimiliki civitas akademika perlu diwujudkan dalam bentuk kerja nyata di kawasan transmigrasi,” ujarnya.
Minat mengikuti program tersebut terbilang tinggi. Dari kebutuhan 1.476 peserta, jumlah pendaftar mencapai 10.359 orang yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri. Dari jumlah itu, sebanyak 246 peserta ditetapkan sebagai ketua tim dan 1.230 lainnya menjadi anggota tim.
Para peserta yang lolos seleksi akan ditempatkan di 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional, 10 kawasan transmigrasi di Papua, serta dua kawasan prioritas yang menjadi fokus pengembangan Kementerian Transmigrasi.
Viva Yoga menjelaskan, TEP 2026 merupakan kelanjutan dari program serupa yang dilaksanakan pada 2025. Jika pada tahap sebelumnya fokus diarahkan pada pemetaan dan riset potensi kawasan, tahun ini pemerintah menitikberatkan pada penerapan hasil penelitian agar dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih nyata.
“Hasil-hasil riset yang telah dilakukan harus dapat diimplementasikan sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi baru di kawasan transmigrasi,” katanya.
Ia mengingatkan para peserta akan menghadapi kondisi lapangan yang berbeda dengan lingkungan perkotaan. Sebagian kawasan transmigrasi masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, akses transportasi, maupun sarana pendukung lainnya.
Karena itu, program tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan semangat pengabdian. Para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menjembatani kolaborasi antara masyarakat transmigran, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Viva Yoga, pengembangan kawasan transmigrasi merupakan bagian dari upaya memperkuat pembangunan dari wilayah pinggiran sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
“Dari kawasan-kawasan yang selama ini belum berkembang optimal, kita ingin melahirkan pusat pertumbuhan baru yang dapat mendorong pemerataan pembangunan nasional,” ujarnya.(*)
(Ardi W/Sulaiman)











