Alumnus UNAIR Ini Buktikan Akuntan Juga Bisa Jadi Advokat Hebat!

HUKUM133 Views

Surabaya, – Profesi advokat identik dengan lulusan hukum. Namun Isa Anshari Arif, S.H., M.H., M.K., alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) angkatan 1995, membuktikan bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Berbekal latar belakang akuntansi, Isa justru berhasil membangun karier sebagai advokat dan mendirikan firma multikeahlian bernama Kantor Hukum ISA & Partner.

Perjalanan ini bermula dari ketertarikannya pada persimpangan antara hukum dan ekonomi. Ketika Peradilan Pajak resmi diundangkan, Isa melihat peluang besar bagi para ahli perpajakan untuk berperan dalam proses peradilan. Peradilan Pajak membuka ruang bagi Sarjana Ekonomi untuk berkontribusi di pengadilan, ujarnya, Jumat (14/11/2025).

Namun, ada persyaratan penting yang tidak bisa ia hindari yakni UU Advokat mensyaratkan gelar S-1 Hukum. Alih-alih mundur, Isa justru mengambil keputusan berani. Saya akhirnya memutuskan kuliah di Fakultas Hukum agar bisa berpraktik sesuai aturan, terangnya.

Dari Auditor ke Advokat

Karier Isa dimulai di ranah audit. Selama 10 tahun ia bekerja sebagai auditor di KAP Prasetyo Utomo & Co., kemudian berkarier sebagai manajer keuangan di beberapa perusahaan. Pengalaman panjang itu menjadi modal berharga ketika ia memutuskan mundur dari zona nyaman.

Pada 2021, ia mengambil langkah besar yakni mendirikan firma hukum sendiri. Langkah ini bukan hanya soal membuka usaha, melainkan menyatukan seluruh keahlian yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun.

ISA & Partner hadir dengan konsep unik: “One Stop Services”. Di firma ini, klien dapat menyelesaikan berbagai urusan mulai dari aspek hukum, akuntansi, perpajakan, keuangan hingga pertanahan, dalam satu pintu layanan.

Biasanya, untuk menangani berbagai persoalan itu dibutuhkan beberapa konsultan berbeda. Di tempat kami, cukup satu kali konsultasi, klien sudah mendapat solusi lengkap,” jelas Isa. Meski begitu, membangun kepercayaan bukan hal mudah. Industri jasa itu tentang reputasi dan integritas. Branding tidak bisa instan; ia dibentuk dari kualitas layanan, tegasnya.

Menariknya, Isa tidak menjadikan jumlah klien atau besarnya firma sebagai puncak pencapaiannya. Baginya, hal yang paling membanggakan adalah ketika ia kini berdiri setara dengan para dosen yang dulu mendidiknya.

“Yang dulu komunikasinya dosen-mahasiswa, sekarang menjadi rekan yang saling sharing. Itu memperkaya literasi dan cara berpikir saya,” ungkapnya.

Sebagai praktisi ekonomi sekaligus hukum, Isa melihat bahwa kemampuan teknis (hard skill) bukan lagi tantangan terbesar generasi muda. Yang sering kurang justru kemampuan berkomunikasi secara profesional dan etika kerja, katanya.

Ia menilai perkembangan teknologi membuat dua aspek penting itu sering terabaikan, padahal menjadi perhatian utama klien-klien besar. Komunikasi dan etika harus terus dibangun bersamaan dengan kemampuan akademik,” pesannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *