Gresik, Jawa Timur – Kawasan transmigrasi kembali menunjukkan daya saingnya di pasar internasional. Sebanyak 16 ton rajungan hasil produksi kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia resmi dilepas untuk diekspor ke Amerika Serikat dengan nilai mencapai Rp14 miliar hingga Rp16 miliar.
Pelepasan ekspor dilakukan di Kawasan Industri Gresik (KIG), Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Senin (29/6), dan dihadiri Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi bersama pemerintah daerah serta mitra industri.
“Saya merasa senang karena potensi rajungan dari kawasan transmigrasi berhasil dikelola dengan baik hingga mampu menembus pasar Amerika Serikat,” ujar Viva Yoga.
Rajungan yang diekspor berasal dari sejumlah kawasan transmigrasi di Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat, serta sentra perikanan di Kabupaten Lamongan dan Gresik. Saat ini, pengiriman dilakukan dua kali setiap bulan, sementara permintaan dari pasar internasional terus meningkat.
Keberhasilan ekspor tersebut merupakan hasil sinergi antara Kementerian Transmigrasi dengan Aruna sebagai offtaker yang menghubungkan pelaku usaha di kawasan transmigrasi dengan pasar global.
Menurut Viva Yoga, kolaborasi tersebut tidak hanya membuka akses ekspor, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi kawasan transmigrasi melalui peningkatan nilai tambah hasil perikanan.
“Kami mengapresiasi Aruna yang telah menjembatani para transmigran dengan pasar internasional sehingga manfaat ekonominya dapat langsung dirasakan masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap kawasan transmigrasi dikembangkan berdasarkan potensi unggulan masing-masing daerah. Pendekatan tersebut memungkinkan lahirnya pusat-pusat produksi yang memiliki daya saing tinggi, mulai dari sektor perkebunan, tanaman pangan, hortikultura hingga perikanan.
Melihat tingginya permintaan pasar dunia terhadap rajungan, pemerintah membuka peluang pengembangan industri pengolahan di kawasan transmigrasi. Jika volume produksi terus meningkat, pembangunan pabrik pengolahan rajungan di kawasan transmigrasi dinilai sangat memungkinkan.
“Industrialisasi dan hilirisasi menjadi arah pengembangan kawasan transmigrasi agar produk tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” tegasnya.
Sebagai contoh, Viva Yoga menyebut keberadaan pabrik gula di kawasan transmigrasi Melolo, Kabupaten Sumba Timur, yang dinilai berhasil menggerakkan perekonomian masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan transmigran.
Keberhasilan ekspor rajungan menambah daftar produk unggulan kawasan transmigrasi yang berhasil memasuki pasar internasional. Sebelumnya, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga melepas ekspor 459 ton durian asal kawasan transmigrasi Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, ke China dengan nilai mencapai Rp42,5 miliar.
Viva Yoga menegaskan, pengembangan komoditas unggulan hingga menembus pasar ekspor merupakan bagian dari strategi Kementerian Transmigrasi untuk memperkuat ekonomi kawasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Potensi kawasan transmigrasi sangat besar. Tugas pemerintah adalah memastikan produk-produk unggulan tersebut terkoneksi dengan pasar nasional maupun global,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyebut ekspor rajungan tersebut sebagai momentum penting bagi penguatan ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi global.
“Hari ini kita melepas dua kontainer. Mudah-mudahan ke depan bisa meningkat menjadi lima kontainer sehingga semakin memperkuat posisi Gresik sebagai salah satu gerbang ekspor produk perikanan Indonesia,” katanya.
Dengan meningkatnya permintaan pasar internasional, sinergi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat transformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat produksi sekaligus kawasan industri berbasis potensi lokal yang berorientasi ekspor.(*)
(Ardi W/Sulaiman)








