
Ponorogo, – Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Program Studi S3 Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) turun tangan memperkuat pertahanan digital di lingkungan pendidikan khusus melalui program Edukasi Literasi Digital bagi Guru SLB di Kabupaten Ponorogo, Sabtu (29/11/2025). Pelatihan ini menargetkan peningkatan kesiapsiagaan guru dalam melindungi siswa berkebutuhan khusus dari serangan siber, hoaks, hingga risiko eksploitasi daring.
Program ini digelar setelah UNAIR menemukan minimnya pelatihan literasi digital di enam SLB Ponorogo, sementara ancaman dunia maya terhadap kelompok disabilitas terus meningkat. Data nasional menunjukkan 56 persen anak disabilitas mengalami perundungan daring, dan 24 persen mengaku takut menggunakan internet karena ancaman keamanan dan privasi.
Pelatihan UNAIR mencakup kemampuan menilai sumber informasi digital, pembuatan media pembelajaran interaktif, penggunaan platform komunikasi digital, hingga pengetahuan keamanan siber seperti manajemen kata sandi, autentikasi dua langkah, dan perlindungan data pribadi siswa.
Pelatihan ini mendapatkan respons sangat positif dari para pendidik. Eva Ristiawati, guru SLBB Pertiwi Ponorogo yang menangani siswa tuna rungu, menyebut kegiatan ini membuka kesadaran baru tentang pentingnya etika dan privasi digital.
“Kami jadi sadar pentingnya IT. Sehari-hari memakai foto dan video, tapi edukasi ini membuat kami lebih paham privasi, pemilihan materi yang sesuai, dan kejelian memilih sumber literasi. Kami berharap ada tindak lanjut agar kami terus berkembang,” ujar Eva.
Senada dengan itu, Rudi Prasetyo dari SLB C Pertiwi Ponorogo menilai pelatihan UNAIR menjawab kebutuhan guru di era digital.
“Materi Pengmas dari S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR sangat menarik. Digitalisasi membuat pembelajaran lebih baik dan menyenangkan. Tidak lagi konvensional,” kata Rudi.
UNAIR Tegaskan Komitmen Lindungi Siswa Disabilitas dari Risiko Daring
Perwakilan tim Pengmas UNAIR menyatakan bahwa peningkatan kapasitas digital guru merupakan langkah strategis untuk memperkuat perlindungan siswa berkebutuhan khusus dari ancaman siber yang semakin kompleks.
Program ini juga selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) serta mendukung peningkatan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi melalui kolaborasi langsung dengan masyarakat.
UNAIR menargetkan mayoritas guru peserta mampu membuat media pembelajaran digital ramah disabilitas, membangun komunitas belajar daring, serta menerapkan standar keamanan digital di sekolah masing-masing.
Dengan tingginya antusiasme guru SLB Ponorogo, UNAIR menyatakan siap melanjutkan pendampingan untuk memastikan siswa disabilitas mendapatkan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan terlindungi dari ancaman dunia maya.
Turut hadir dalam kegiatan Pengmas ini adalah Kaprodi S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR Prof. Dr. Siti Mas’udah, Dr. Fitri Mutia selaku pemateri pelatihan, dan beberapa tim tendik serta mahasiswa S1, S2 dan S3 FISIP UNAIR. (*)
(Tommy/Sulaiman)







