Jakarta, – Program transmigrasi tidak hanya diarahkan untuk membangun kawasan dan meningkatkan kesejahteraan transmigran. Kementerian Transmigrasi juga mendorong pemberdayaan masyarakat lokal agar integrasi sosial dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan bersama.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan, keberhasilan program transmigrasi turut ditentukan oleh hubungan harmonis antara transmigran dan masyarakat setempat.
“Kementerian Transmigrasi tidak hanya bertanggung jawab kepada kawasan dan transmigran, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal. Dalam transmigrasi ada interaksi, komunikasi, dan integrasi sosial antara transmigran dan masyarakat setempat,” ujar Viva Yoga saat menjadi tamu dalam sebuah program televisi di Mampang, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Ia mencontohkan kondisi di Kota Subulussalam, Aceh. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari wali kota setempat, transmigran dan masyarakat lokal di wilayah tersebut dapat hidup rukun dan harmonis.
Menurut Viva Yoga, keberhasilan integrasi sosial sekaligus manfaat ekonomi yang dihasilkan kawasan transmigrasi menjadi salah satu alasan kepala daerah mengusulkan pembukaan kawasan transmigrasi baru.
Saat ini, kata dia, terdapat 61 proposal dari bupati yang mengusulkan pembukaan kawasan transmigrasi baru di daerah masing-masing.
“Ini menunjukkan bahwa transmigrasi memberikan manfaat besar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Viva Yoga menjelaskan, pembukaan kawasan baru dapat membuka wilayah yang sebelumnya terisolasi atau belum berkembang. Potensi sumber daya di kawasan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi komoditas unggulan.
Sejumlah komoditas yang telah berkembang di kawasan transmigrasi antara lain padi, kelapa sawit, kakao, durian, cengkeh, kopi, dan tebu. Selain pertanian dan perkebunan, potensi perikanan serta pariwisata juga terus dikembangkan.
“Potensi unggulan tersebut tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan nasional, tetapi juga sudah ada yang diekspor,” ujarnya.
Libatkan 10 Kampus Unggulan
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Kementerian Transmigrasi menggandeng 10 perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang terlibat yakni Universitas Indonesia, IPB University, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Sebanyak 1.476 anggota TEP diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi.
Ribuan anggota tersebut terdiri atas 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana.
Viva Yoga mengatakan, TEP 2026 bertugas menindaklanjuti hasil riset TEP 2025 agar potensi unggulan di kawasan transmigrasi tidak berhenti pada kajian akademis.
“Tim ini mempunyai misi untuk merealisasikan hasil dari riset TEP 2025. Potensi-potensi unggulan yang ada ditindaklanjuti dalam model, prototipe, dan kerja praktis,” ujarnya.
Menurut dia, langkah tersebut diharapkan mendorong pengembangan industri di kawasan transmigrasi, baik dalam skala kecil maupun besar. Hilirisasi potensi lokal pada akhirnya dapat melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Dari sinilah muncul kawasan baru pertumbuhan ekonomi. Kawasan baru ini tidak hanya menciptakan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menciptakan lapangan kerja,” kata Viva Yoga.(*)
(Ardi W/Sulaiman)













