
Paris, Prancis – Di tengah semakin mendesaknya ancaman perubahan iklim, solusi tidak selalu lahir dari laboratorium berteknologi tinggi atau investasi bernilai miliaran rupiah. Dari pesisir Tuban, sentra kelapa di Magelang, hingga lahan pertanian di Jawa Timur, tiga kelompok anak muda Indonesia justru menunjukkan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi bagian dari jawaban atas tantangan lingkungan global.
Tiga inisiatif asal Indonesia terpilih sebagai penerima hibah dalam program Youth Impact: Because You Matter for Environmental Sustainability and Climate Action 2026, sebuah program kolaborasi UNESCO dan Nestlé yang mendorong kepemimpinan generasi muda dalam bidang keberlanjutan lingkungan dan aksi iklim.
Ketiga inisiatif tersebut adalah Lontarverse dari Jawa Timur, Locower.id dari Magelang dan Yogyakarta, serta Bearning yang dikembangkan alumni Universitas Airlangga. Para penggagasnya diundang ke Markas Besar UNESCO di Paris, Perancis, pada 2-6 Juni 2026 untuk mengikuti pelatihan, penguatan kapasitas, dan membangun jejaring kolaborasi internasional.
Keberhasilan itu menjadi penanda semakin kuatnya kontribusi pemuda Indonesia dalam menghadirkan solusi lingkungan yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Mereka bekerja di tingkat akar rumput, memanfaatkan sumber daya lokal, sekaligus menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Duta Besar dan Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, Satrya Wibawa, menilai capaian tersebut menunjukkan kapasitas anak muda Indonesia dalam menghubungkan inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan agenda keberlanjutan global.
“Solusi iklim tidak selalu harus datang dari teknologi besar dan mahal. Sering kali jawabannya lahir dari keberanian anak muda membaca potensi lokal, bekerja bersama masyarakat, dan mengubah persoalan sehari-hari menjadi inovasi yang berdampak,” ujar Satrya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi media ini, Senin (8/6/2026) malam.
Menurut dia, ekosistem dukungan bagi inovator muda perlu terus diperkuat, baik oleh pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, maupun masyarakat.
“Saya berharap berbagai pemangku kepentingan dapat melihat potensi besar yang dimiliki anak-anak muda ini. Mereka tidak hanya membutuhkan apresiasi, tetapi juga dukungan agar ide-ide mereka dapat tumbuh, diuji, diperluas, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat serta lingkungan,” katanya.
Salah satu penerima hibah adalah Salamatul Hifdiyah, alumni Politeknik Negeri Malang yang memimpin Lontarverse, sebuah inisiatif yang mengembangkan pemanfaatan pohon lontar di wilayah pesisir Jawa Timur.
Berbasis di Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, program tersebut lahir dari keprihatinan atas melimpahnya pohon lontar di kawasan Tuban yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, tanaman tersebut memiliki potensi sebagai sumber pangan, penggerak ekonomi lokal, sekaligus instrumen adaptasi terhadap perubahan iklim.
Melalui berbagai produk turunan seperti minuman fermentasi berbahan nira lontar, gula dan sirup nira, kecap nira, hingga bioetanol, Lontarverse berupaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Lontar bukan hanya sumber nira tradisional, tetapi juga warisan budaya, sumber penghidupan, dan pintu masuk menuju ketahanan iklim,” ujar Salamatul.
Program tersebut melibatkan petani, perempuan, pemuda, sekolah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan berbagai mitra pembangunan untuk memperluas pasar, memperkuat regenerasi petani muda, serta meningkatkan akses teknologi dan pendanaan.
Inisiatif lain yang terpilih adalah Locower.id, program yang digerakkan mahasiswa dan alumni Universitas Gadjah Mada, yakni Eva Yunizar Reza, Muhammad Haris Yulianto, Salsabila Khoirun’nisa, dan Afif Irfan Zein.
Melalui pendekatan Local Community Empowerment, mereka mengembangkan model ekonomi sirkular yang menempatkan perempuan petani sebagai pelaku utama pembangunan. Potensi kelapa di Kabupaten Magelang diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah guna memperkuat ekonomi lokal sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
“Perempuan petani dapat menjadi motor penggerak ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” ujar Salsabila.
Meski menghadapi tantangan koordinasi dan jarak antarlokasi, program tersebut terus berkembang melalui kombinasi kerja lapangan, kolaborasi daring, riset, pengembangan sosial, serta kemitraan dengan perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor energi terbarukan.
Sementara itu, Muhamad Rizaldi Bin Nuryasin, alumni Universitas Airlangga, mengembangkan Bearning (Burning with Earning), sebuah inovasi teknologi hijau yang berfokus pada pengelolaan limbah pertanian.
Melalui program tersebut, limbah pertanian yang lazim dibakar diubah menjadi biochar, material yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik sekaligus berfungsi menyimpan karbon dalam jangka panjang.
“Kami ingin mengubah praktik pembakaran limbah menjadi peluang ekonomi yang sekaligus membantu mengurangi emisi karbon,” kata Rizaldi.
Menurut dia, tantangan terbesar saat ini adalah masih rendahnya kesadaran mengenai perubahan iklim di sektor pertanian serta belum sepenuhnya selarasnya regulasi dengan berbagai inisiatif yang berkembang di tingkat masyarakat.
Ke depan, Bearning akan memperluas proyek percontohan, memperkuat kolaborasi multipihak, dan mendorong aksi iklim yang lebih berkelanjutan di sektor pertanian.
Melalui program Youth Impact: Because You Matter, para penerima hibah memperoleh dukungan pendanaan implementasi proyek, pendampingan mentor, pelatihan kapasitas, akses jejaring internasional, serta kesempatan mempresentasikan inovasi mereka kepada komunitas global.(*)
Editor: Sulaiman











