UNAIR Kukuhkan Lima Guru Besar, Perkuat Barisan Intelektual Hadapi Tantangan Strategis Bangsa

Edukasi86 Views

Surabaya, Jawa Timur – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali memperkuat barisan intelektual nasional dengan mengukuhkan lima guru besar baru, Kamis (9/4/2026), di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR. Momentum ini menjadi langkah strategis dalam mempertebal daya tahan keilmuan bangsa di tengah dinamika global yang kian kompleks.

Lima guru besar yang dikukuhkan berasal dari spektrum keilmuan yang saling melengkapi, yakni Prof. Dr. Bambang Sugeng Ariadi Subagyono, S.H., M.H. dan Prof. Dr. Radian Salman, S.H., LL.M. dari Fakultas Hukum, Prof. Dr. Muhammad Asfar, Drs., M.Si. dan Prof. Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., M.A., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, serta Prof. Dr. Ahmad Shofy Mubarak, S.Pi., M.Si. dari Fakultas Perikanan dan Kelautan.

Pengukuhan ini tidak sekadar seremoni akademik, melainkan penegasan kesiapan UNAIR dalam menghadirkan kekuatan pemikiran sebagai garda depan menjawab tantangan zaman, mulai dari ketahanan pangan, dinamika politik global, hingga perlindungan konsumen di era digital.

Rektor UNAIR, Muhammad Madyan, menegaskan bahwa kehadiran guru besar merupakan bagian dari tanggung jawab strategis perguruan tinggi dalam menjaga arah peradaban bangsa. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus hadir sebagai solusi konkret, bukan sekadar wacana.

“Ilmu pengetahuan harus adaptif, responsif, dan mampu menjawab perubahan zaman yang berlangsung cepat. Teknologi harus dimanfaatkan untuk melahirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat,” tegasnya.

Dalam perspektif strategis, perguruan tinggi dipandang sebagai pusat gravitasi pengembangan ilmu yang berperan menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kebangsaan. Melalui riset berkelanjutan, akademisi diharapkan mampu tidak hanya menjawab persoalan aktual, tetapi juga memetakan ancaman dan peluang di masa depan.

Lebih jauh, Prof. Madyan menekankan pentingnya sinergi antara inovasi, regulasi, dan etika sebagai fondasi utama pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Ia mengingatkan bahwa seluruh capaian teknologi harus tetap berlandaskan pada prinsip keadilan, hak asasi manusia, serta kepentingan nasional.

“Sinergi antara inovasi, literasi, regulasi, dan nilai-nilai dasar menjadi kunci agar ilmu pengetahuan benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Pengukuhan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa peran guru besar tidak berhenti pada ranah akademik, tetapi juga sebagai pemimpin intelektual yang mampu menggerakkan perubahan, memperkuat tridharma perguruan tinggi, serta menjaga integritas keilmuan demi kepentingan bangsa dan negara.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *