Tuntutan Transparansi Mengemuka, AMPDT Desak Audit dan Evaluasi Hotel Khas Parapat

 

Simalungun, Sumatera Utara – Aksi Aliansi Mahasiswa-Pemuda Peduli Danau Toba (AMPDT) di depan Hotel Khas Parapat, Kabupaten Simalungun, Sabtu (19/9/2026) sore, memanas. Massa membakar ban di depan pintu utama hotel setelah menilai sejumlah tuntutan terkait transparansi pengelolaan lingkungan, dokumen IPAL, hingga persoalan hak pekerja belum mendapatkan kejelasan dari pihak manajemen.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB tersebut diawali dengan orasi massa. Sejumlah persoalan disuarakan, mulai dari transparansi pengelolaan limbah dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dokumen lingkungan, penggunaan lahan, penyaluran CSR, hingga persoalan hubungan industrial antara pihak hotel dan pekerja.

Koordinator Aksi I AMPDT, Darma Naibaho, mengatakan massa masih menunggu keterbukaan pihak Hotel Khas Parapat terkait data IPAL dan sejumlah dokumen yang sebelumnya telah diminta.

Menurut Darma, tuntutan tersebut berkaitan dengan kepentingan lingkungan Danau Toba sekaligus masyarakat dan pekerja di sekitar kawasan hotel.

Karena menilai belum memperoleh tanggapan yang sesuai dengan tuntutan, suasana aksi kemudian meningkat. Massa membakar ban di depan pintu utama Hotel Khas Parapat sebagai bentuk protes.

Darma juga menyatakan massa sempat masuk ke area hotel setelah pihaknya menilai belum memperoleh kejelasan mengenai data dan dokumen IPAL yang diminta.

Di tengah situasi tersebut, Rafael Sinaga terlihat mengatur massa dan memantau jalannya aksi agar tetap terkendali.

Ketua Dewan Pembina AMPDT, Jhony Barimbing, turut mempertanyakan sikap manajemen Hotel Khas Parapat yang menurutnya belum memberikan dokumen transparansi terkait IPAL, fungsi serta pengelolaannya.

Ia mengatakan pihak AMPDT telah melayangkan surat kepada sejumlah pihak terkait di tingkat pusat. Jika tidak memperoleh tanggapan, AMPDT berencana membawa persoalan tersebut ke Jakarta.

“Persoalan ini bukan hanya menyangkut hotel, tetapi juga menyangkut lingkungan Danau Toba, masyarakat sekitar dan kehidupan para pekerja. Jika tidak ada tanggapan dari Manajemen Khas Hotel Parapat, kita akan melakukan aksi di Kantor Injourney Hospitality di Jakarta,” tegas Jhony.

Desak Transparansi Pengelolaan Lingkungan

Dalam pernyataan sikapnya, AMPDT menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Hotel Khas Parapat dan pihak terkait.

Salah satu tuntutan utama adalah keterbukaan informasi mengenai pengelolaan limbah dan penggunaan IPAL. Massa juga meminta pihak hotel membuka dokumen lingkungan berupa AMDAL dan/atau UKL-UPL yang berkaitan dengan operasional hotel.

Selain persoalan lingkungan, AMPDT mempertanyakan status dan dokumen terkait HGU dan/atau HGB, termasuk sertifikat serta masa berlakunya.

Persoalan CSR juga menjadi perhatian massa. AMPDT meminta Hotel Khas Parapat dan/atau PT Hotel Indonesia Properti (HIPRO) membuka laporan penyaluran CSR selama lima tahun terakhir kepada masyarakat.

Mereka juga meminta keterbukaan mengenai persentase penyerapan tenaga kerja lokal serta bentuk sinergi dan kemitraan hotel dengan pelaku UMKM dan masyarakat sekitar.

Tidak hanya isu lingkungan dan CSR, AMPDT juga membawa persoalan hubungan industrial ke dalam aksi tersebut.

Massa mendesak pembayaran upah lembur bagi karyawan maupun eks karyawan yang menurut mereka masih menjadi persoalan.

AMPDT selanjutnya meminta dilakukan evaluasi dan audit terhadap seluruh manajemen Hotel Khas Parapat.

Dalam tuntutannya, massa bahkan meminta seluruh aktivitas dan kegiatan operasional Hotel Khas Parapat dihentikan sampai tuntutan yang mereka sampaikan ditindaklanjuti.

AMPDT juga mendesak Kepala BP BUMN mencopot General Manager Khas Hotel Parapat serta Direktur Utama PT Hotel Indonesia Properti.

Berbagai tuntutan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dibawa AMPDT tidak hanya berkaitan dengan satu isu, tetapi mencakup lingkungan, tata kelola, tanggung jawab sosial perusahaan, hubungan industrial, hingga manajemen perusahaan.

Ancam Kembali dengan Massa Lebih Besar

Menjelang malam, Koordinator Aksi I AMPDT Darma Naibaho kembali menyampaikan pernyataan terkait keberlanjutan aksi.

Ia mengatakan AMPDT memberikan waktu satu minggu kepada pihak terkait untuk memberikan tanggapan atas tuntutan yang disampaikan.

Jika tidak ada tanggapan, AMPDT menyatakan akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih besar. “Kalau dalam satu minggu tidak ada tanggapan, kami akan kembali dengan massa yang lebih banyak. Aksi kedua akan digelar di depan pintu masuk utama Hotel Khas Parapat,” tegas Darma.

AMPDT menyatakan tuntutan tersebut disuarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem Danau Toba, kehidupan pekerja, serta kepentingan sosial masyarakat di sekitar Hotel Khas Parapat.

Aksi berakhir menjelang malam. Massa kemudian membubarkan diri secara bertahap.(*)

(Laode/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *