
Mamasa, Sulawesi Barat – Kebutuhan infrastruktur dasar di wilayah terpencil kembali menjadi sorotan. Di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, pembangunan jembatan kini dipercepat menyusul tingginya risiko keselamatan warga akibat kondisi jembatan yang tidak layak.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Maruli Simanjuntak memerintahkan jajaran satuan teritorial untuk mendata jembatan yang mendesak diperbaiki maupun dibangun di wilayah tersebut. Hasil pendataan awal menunjukkan sedikitnya 78 jembatan membutuhkan penanganan segera.
Wilayah Mamasa yang didominasi perbukitan dan pegunungan menjadikan jembatan sebagai sarana vital penghubung antarpermukiman. Kondisi ini semakin mendesak setelah insiden beberapa anak terjatuh dari jembatan beberapa waktu lalu.
Komandan Kodim 1428/Mamasa Letkol Arh Edwin Hermawan menyatakan, kejadian tersebut menjadi perhatian serius pihaknya. Ia kemudian mengusulkan percepatan pembangunan dan perbaikan jembatan kepada Markas Besar TNI Angkatan Darat.
“Jembatan adalah akses utama masyarakat, termasuk bagi anak-anak menuju sekolah. Karena itu, keselamatan menjadi prioritas utama,” ujar Edwin, Senin (30/3/2026).
Saat ini, pembangunan Jembatan Garuda di Desa Tadisi melibatkan personel TNI bersama warga setempat melalui kerja bakti. Edwin turun langsung memimpin kegiatan di lapangan untuk memastikan proses berjalan sesuai rencana.
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi kunci percepatan pembangunan sekaligus mencerminkan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
“Meski cuaca kurang bersahabat karena hujan, kami tetap optimistis pekerjaan ini dapat selesai tepat waktu. Target kami kurang dari satu bulan,” katanya.
Program pembangunan jembatan ini juga sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas wilayah terpencil.
Pembangunan Jembatan Garuda diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan warga, tetapi juga memperlancar akses pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat Mamasa. Di wilayah dengan keterbatasan akses, jembatan bukan sekadar infrastruktur, melainkan penghubung utama kehidupan sehari-hari.(*)
(Arif Budi P/Sulaiman)













