Terungkap! Tanaman Herbal Indonesia Berpotensi Jadi Fondasi Kemandirian Farmasi Nasional

Edukasi, Kesehatan345 Views

Surabaya, Jawa Timur – Di tengah meningkatnya tantangan ketergantungan global terhadap bahan baku obat dan ancaman krisis kesehatan multidimensi, ilmuwan Indonesia mengungkap potensi strategis tanaman herbal lokal sebagai fondasi kemandirian farmasi nasional. Temuan ini membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan kesehatan sebagai bagian integral dari ketahanan nasional.

Pengungkapan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Toksikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Sugiharto, S.Si., M.Si., dalam orasi ilmiahnya pada upacara pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti, Kampus MERR-C UNAIR, Surabaya, Kamis (12/2/2026).

Dalam paparannya, Sugiharto menegaskan bahwa berbagai tanaman herbal asli Indonesia memiliki kemampuan biologis signifikan dalam memperkuat sistem pertahanan tubuh terhadap ancaman toksik dan penyakit kronis. Tanaman seperti temu giring, temu kunci, jahe merah, temulawak, dan sambung nyawa terbukti mengandung senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan kuat.

“Penelitian kami membuktikan bahwa ekstrak tanaman lokal mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan curcuminoid yang mampu menurunkan stres oksidatif, meningkatkan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan CAT, serta melindungi organ vital dari kerusakan akibat paparan logam berat,” ujar Sugiharto.

Ia menjelaskan, kemampuan tersebut menjadikan tanaman herbal Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku obat modern, termasuk untuk terapi penyakit kronis, infeksi bakteri, hingga gangguan akibat paparan zat berbahaya.

Potensi ini menjadi semakin relevan seiring proyeksi pasar global obat herbal organik yang diperkirakan mencapai USD 24,5 miliar pada 2030. Momentum tersebut diperkuat dengan pengakuan jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO pada 2023, yang menegaskan nilai strategis kekayaan hayati Indonesia di tingkat global.

Namun demikian, Sugiharto menekankan pentingnya proses saintifikasi untuk memastikan efektivitas dan keamanan penggunaan herbal sebagai obat modern.

“Saintifikasi jamu merupakan proses pembuktian ilmiah melalui uji laboratorium hingga uji klinis. Ini penting untuk meningkatkan status jamu menjadi obat herbal terstandar bahkan fitofarmaka, sekaligus memperkuat kemandirian obat nasional,” katanya.

Kemandirian farmasi menjadi isu strategis bagi banyak negara, terutama setelah pandemi global dan gangguan rantai pasok internasional yang memperlihatkan kerentanan negara-negara yang bergantung pada impor bahan baku obat.

Ancaman dan Tantangan Strategis

Di sisi lain, Sugiharto mengingatkan bahwa potensi besar tersebut menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya tanaman obat akibat deforestasi, perubahan iklim, dan degradasi lingkungan.

Selain itu, pengembangan obat berbasis tanaman memerlukan proses standardisasi ketat serta investasi besar dalam penelitian dan pengembangan.

“Tanaman obat merupakan aset strategis bangsa. Tanpa perlindungan sumber daya dan dukungan riset berkelanjutan, kita berisiko kehilangan peluang besar untuk membangun kemandirian farmasi nasional,” ujarnya.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, Sugiharto menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, pemerintah, industri farmasi, dan sektor pertanian dalam membangun ekosistem farmasi nasional yang mandiri dan berkelanjutan.

Ia menegaskan bahwa kekayaan hayati Indonesia merupakan kekuatan strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

“Alam Indonesia adalah laboratorium raksasa yang belum sepenuhnya kita eksplorasi. Tanaman yang selama ini dianggap biasa, bahkan liar, berpotensi menjadi fondasi pengobatan masa depan dan tulang punggung kemandirian farmasi nasional,” ujarnya.

Temuan ini menegaskan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada teknologi industri modern, tetapi juga pada kemampuan memanfaatkan sumber daya hayati secara ilmiah, terukur, dan strategis—sebuah langkah penting menuju kedaulatan kesehatan nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *