
Manila, Filipina – Industri tembakau Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi global apabila dikelola dengan strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hal itulah yang tengah dirancang oleh pengusaha nasional HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, atau yang akrab disapa Gus Lilur, melalui pembangunan ekosistem industri rokok berbasis tembakau Nusantara.
Dari Manila, Filipina, Ahad (15/3/2026), Gus Lilur menyelesaikan rancangan strategis bisnis tembakau yang menurutnya tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga bertujuan memperkuat ekonomi rakyat, khususnya petani tembakau dan pelaku industri kecil.
“Bisnis bagi saya bukan sekadar mencari keuntungan. Saya berharap melalui usaha ini banyak rezeki masyarakat yang bisa mengalir dan menghidupi banyak keluarga,” ujar Gus Lilur.
Dalam beberapa tahun terakhir, Gus Lilur mulai membangun fondasi bisnis yang mencakup tiga sektor utama industri tembakau, yakni perusahaan rokok, perusahaan pengolahan tembakau, serta perusahaan distribusi.
Di sektor rokok, ia telah membentuk enam induk perusahaan, antara lain Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU).
Sebagian besar perusahaan tersebut telah menyelesaikan proses legalitas, bahkan salah satunya telah memiliki pabrik rokok lengkap dengan fasilitas produksi.
Sementara di sektor bahan baku, Gus Lilur membangun dua perusahaan tembakau, yakni Nusantara Global Tobacco (NGO) dan Bandar Tembakau Indonesia (Bakau Indonesia).
Untuk memperkuat rantai distribusi, ia juga mendirikan perusahaan logistik Angkut Barang Seluruh Nusantara (ABANG SETARA).
Menurut Gus Lilur, seluruh struktur tersebut merupakan fondasi awal sebelum memasuki tahap ekspansi usaha.
Ekspansi Industri Tembakau
Langkah berikutnya adalah memperluas infrastruktur industri tembakau melalui pembangunan gudang tembakau dan pabrik rokok di berbagai daerah sentra tembakau Indonesia.
Ia menargetkan pembangunan 17 gudang tembakau besar di tiga provinsi utama penghasil tembakau, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.
Di Jawa Timur, gudang direncanakan berdiri di Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Di Nusa Tenggara Barat, pembangunan akan dilakukan di Lombok Timur, Lombok Tengah, serta Kota Mataram.
Adapun di Jawa Tengah, wilayah yang menjadi target antara lain Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.
Selain gudang tembakau, Gus Lilur juga merencanakan pembangunan 19 pabrik rokok berskala menengah hingga internasional, termasuk di Sidoarjo dan Malang.
Namun bagi Gus Lilur, pembangunan industri besar bukan satu-satunya tujuan. Ia juga menyiapkan konsep pengembangan industri rokok berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah-daerah penghasil tembakau.
Rencananya, sekitar 2.000 pabrik rokok skala UMKM akan dibangun di berbagai daerah tersebut. Setiap unit usaha diperkirakan mempekerjakan sekitar 20 pekerja.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, sedikitnya 40.000 tenaga kerja baru dapat terserap dalam ekosistem industri tersebut. “Konsepnya adalah memadukan industri besar dengan industri rakyat. Jadi petani tembakau, pekerja pabrik, dan pelaku UMKM bisa sama-sama tumbuh,” kata Gus Lilur.
Produk rokok yang diproduksi melalui UMKM tersebut nantinya menggunakan berbagai jenis tembakau khas Nusantara, seperti Virginia dari Lombok, Oriental dari Madura, Burley dari Jember dan Banyuwangi, Besuki dari Situbondo, Lumajang Blend, serta Srintil dari Temanggung.
Menembus Pasar Global
Dengan memadukan kekuatan industri besar dan industri rakyat, Gus Lilur optimistis Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pemain utama dalam industri rokok global.
Ia meyakini kekayaan varietas tembakau Nusantara merupakan keunggulan kompetitif yang dapat membawa produk rokok Indonesia bersaing di pasar internasional. “Indonesia memiliki tembakau yang sangat beragam dan berkualitas. Jika dikelola dengan baik, bukan tidak mungkin kita bisa menjadi kekuatan besar di industri rokok dunia,” ujarnya.
Bagi Gus Lilur, ambisi membangun imperium industri rokok bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga tentang membangun kebanggaan nasional melalui kekuatan ekonomi berbasis sumber daya dalam negeri.
“Sudah saatnya petani tembakau Indonesia sejahtera. Saatnya rokok Indonesia berjaya di pasar dunia,” kata dia.(*)
Editor: Sulaiman













