Sound Horeg Kuping Budeg dan Kisah Pilu Telinga Indonesia

 

Bayangkan ini, “kamu lagi asyik-asyiknya menikmati karnaval Agustusan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar dentuman bass yang bikin dada bergetar lebih kencang daripada hati pas lihat mantan”. Itu dia sound horeg, fenomena hiburan rakyat yang belakangan makin hits di berbagai daerah, terutama di Jawa Timur. Tapi di balik kemeriahannya, ada cerita lain yang kurang menyenangkan yaitu kuping alias telinga budeg, gangguan pendengaran, dan sederet masalah kesehatan yang mengintai.

Apa Itu Sound Horeg?

Sound horeg bukan sekadar sound system biasa. Ini adalah sistem audio berdaya besar dengan volume suara yang bisa tembus 120 hingga 135 desibel, jauh di atas batas aman yang direkomendasikan WHO yaitu 85 desibel. Fenomena ini biasanya muncul dalam acara hajatan, karnaval, konvoi, hingga festival jalanan. Bagi sebagian orang, sound horeg adalah bentuk ekspresi budaya dan hiburan yang meriah. Tapi bagi yang lain, ini adalah sumber polusi suara yang bikin resah.

Istilah “horeg” sendiri konon berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan getaran atau sensasi yang dirasakan tubuh saat terkena dentuman bass yang sangat keras. Jadi kalau kamu merasa dada bergetar atau bahkan pusing saat lewat di dekat sound horeg, itu bukan sekadar perasaan. Tubuhmu benar-benar merasakan getaran suara yang ekstrem.

Nah, ini bagian yang serius. Paparan suara keras dari sound horeg bukan cuma bikin telinga berdengung sebentar. Dokter spesialis THT dari berbagai universitas sudah memberi peringatan keras. Paparan kebisingan ekstrem bisa merusak sel-sel rambut di koklea, bagian telinga dalam yang berfungsi mengubah energi suara menjadi impuls listrik menuju otak.

Masalahnya, sel-sel rambut ini tidak bisa beregenerasi. Sekali rusak, ya rusak permanen. Kondisi ini disebut Noise-Induced Hearing Loss atau NIHL, dan ini bukan gangguan pendengaran biasa. Ini bisa berujung pada tuli permanen.

Dr. Indra Setiawan dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang menjelaskan bahwa tekanan udara dari suara yang terlalu keras, jika didengarkan dari jarak dekat, bisa merusak tulang-tulang peredam pendengaran. Bahkan dalam kasus ekstrem, gendang telinga bisa robek dan butuh operasi.

Dampak sound horeg tidak berhenti di telinga saja. Paparan suara keras dalam waktu lama juga bisa memicu stres, gangguan tidur atau insomnia, hingga peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Gelombang suara dengan energi besar juga berpotensi memicu vertigo atau gangguan keseimbangan tubuh. Selain itu getaran yang kuat terkadang bisa merusak bagian bangunan yang rentan pecah atau berjatuhan.

Bayangkan kalau kamu tinggal di dekat jalur karnaval yang rutin pakai sound horeg. Setiap ada acara, kamu bukan cuma kehilangan kenyamanan, tapi juga berisiko mengalami gangguan kesehatan jangka panjang. Ini bukan lagi soal selera hiburan, tapi soal hak atas lingkungan sehat.

Yang paling mengkhawatirkan, anak-anak dan balita adalah kelompok paling rentan. Organ pendengaran mereka masih berkembang, sehingga toleransi terhadap kebisingan jauh lebih rendah dibanding orang dewasa. Paparan suara keras dalam waktu lama bisa merusak sel-sel rambut pada telinga bagian dalam mereka, dan kerusakan ini bersifat permanen.

Jadi kalau kamu lihat anak kecil ikut-ikutan dekat sound horeg, sebaiknya segera jauhkan. Mereka mungkin terlihat senang, tapi telinga mereka sedang menjerit minta tolong.

Kenapa Masih Banyak yang Suka?

Pertanyaannya, kalau sudah tahu bahayanya, kenapa masih banyak yang suka sound horeg? Beberapa alasan muncul. Pertama, ada faktor budaya. Sound horeg sudah menjadi bagian dari tradisi hiburan rakyat di beberapa daerah, terutama saat perayaan Agustusan atau acara desa.

Kedua, ada sensasi yang unik. Dentuman bass yang keras menciptakan pengalaman audio yang berbeda, bikin tubuh bergetar dan adrenalin naik. Bagi sebagian orang, ini adalah bentuk hiburan yang seru dan menghibur.

Ketiga, faktor ekonomi. Sound horeg menjadi bisnis yang menguntungkan bagi penyedia jasa sound system. Dalam acara hajatan atau karnaval, sound horeg menjadi daya tarik yang bisa meningkatkan jumlah penonton dan partisipasi.

Tapi dampak ekonominya hanya bersifat jangka pendek, sementara risikonya berpotensi mengganggu pendengaran secara permanen.

Fenomena sound horeg memang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai hiburan yang sah, sementara yang lain merasa terganggu dan khawatir dengan dampak kesehatannya.

Para pakar menyarankan beberapa solusi. Pertama, perlu regulasi tegas dari pemerintah daerah untuk membatasi intensitas suara dan waktu penggunaan sound horeg. Kedua, penetapan zona khusus untuk acara yang menggunakan sound system berdaya besar, agar tidak mengganggu permukiman warga.

Ketiga, penerapan teknologi peredam kebisingan pada sound system itu sendiri. Keempat, dan yang paling penting, edukasi masyarakat tentang bahaya paparan suara keras dan cara melindungi pendengaran.

Kalau kamu terpaksa harus berada di dekat sound horeg, ada beberapa tips yang bisa dilakukan. Pertama, jaga jarak. Semakin jauh dari sumber suara, semakin kecil risikonya.

Kedua, gunakan pelindung telinga seperti earplug atau penutup telinga. Ini bisa mengurangi intensitas suara yang masuk ke telinga. Ketiga, batasi durasi paparan. Jangan berlama-lama di dekat sound horeg, apalagi kalau sudah mulai terasa tidak nyaman.

Keempat, kalau setelah terpapar suara keras kamu merasa telinga berdengung, segera cari tempat tenang dan istirahatkan telinga. Kalau dengingnya menetap atau pendengaran terasa berkurang, segera periksa ke dokter THT.

Sound horeg adalah contoh nyata bahwa hiburan tidak selalu bebas dampak. Di satu sisi, ini adalah bentuk ekspresi budaya dan hiburan rakyat yang meriah. Di sisi lain, ini adalah sumber polusi suara yang berpotensi merusak kesehatan.

Pertanyaannya, apakah kemeriahan sesaat sebanding dengan risiko tuli permanen? Apakah tradisi harus dipertahankan meski mengorbankan kesehatan masyarakat? Ini adalah pertanyaan yang perlu dijawab bersama, bukan hanya oleh penyelenggara acara, tapi juga oleh masyarakat dan pemerintah.

Menemukan Keseimbangan

Mungkin solusinya bukan melarang sound horeg sepenuhnya, tapi menemukan keseimbangan antara pelestarian budaya dan perlindungan kesehatan. Sound horeg bisa tetap ada sebagai bagian dari tradisi, tapi dengan pengaturan yang lebih ketat dan kesadaran akan dampaknya.[

Pemerintah daerah bisa membuat peraturan yang membatasi intensitas suara, waktu pelaksanaan, dan lokasi acara. Penyelenggara acara bisa lebih bertanggung jawab dengan tidak menyetel volume terlalu keras dan memberikan peringatan kepada penonton. Masyarakat juga perlu lebih sadar akan risiko dan melindungi diri serta anak-anak dari paparan berlebihan.

Sound horeg memang menghibur, tapi kuping budeg. Hiburan seharusnya tidak mengorbankan kesehatan. Kalau kita ingin tradisi tetap lestari, kita juga harus memastikan bahwa generasi mendatang bisa mendengarnya dengan baik, bukan dengan alat bantu dengar karena tuli permanen.

Jadi, kalau ada sound horeg di dekatmu, nikmati saja dari jarak aman. Biarkan bass-nya menggetarkan dada, bukan merusak telinga. Karena hiburan yang baik adalah hiburan yang tidak meninggalkan dampak buruk di kemudian hari.(*)

HERY PURNOBASUKI

Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga dan Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) Universitas Airlangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terbaru