
Situbondo, Jawa Timur – Sebuah bangunan kayu tua yang hingga kini masih berdiri di Desa Kayuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, disebut sebagai salah satu situs bersejarah penyebaran Islam di wilayah Tapal Kuda. Bangunan tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari dua abad dan pada awal pendiriannya berfungsi sebagai masjid pesantren.
Menurut keterangan keluarga dan penelusuran sejarah lisan, masjid kayu tersebut didirikan pada 1825 sebagai bagian dari Pesantren Kyai Raden Mas Su’ud, seorang ulama yang dikenal berperan penting dalam pengislaman Situbondo dan sekitarnya. Saat ini, bangunan itu kerap disebut sebagai langgar atau musholla oleh masyarakat setempat, meski struktur utamanya diyakini masih asli sejak awal pendirian.
Masjid tersebut menjadi satu dari sedikit artefak fisik yang tersisa dari pesantren Kyai Raden Mas Su’ud. Selain bangunan masjid, jejak sejarah sang ulama juga ditandai dengan keberadaan makamnya yang memiliki nisan khas ulama Madura, khususnya Pamekasan dan Sumenep.
Kyai Raden Mas Su’ud diketahui merupakan trah keempat Raden Azhar Wongsodirejo atau Bhujuk Sèda Bulangan, putra Raden Wiro Menggolo, Raja Sumenep. Garis keturunan ini menunjukkan kuatnya keterkaitan antara dakwah Islam, kepemimpinan lokal, dan pembentukan struktur sosial masyarakat pesisir Madura dan Jawa Timur pada abad ke-19.
Seiring berjalannya waktu, pesantren yang dahulu berdiri di sekitar masjid kayu tersebut tidak berlanjut secara kelembagaan hingga generasi berikutnya. Namun, bangunan masjid tetap bertahan dan menjadi simbol keteguhan nilai spiritual serta daya tahan warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Dalam keterangannya, Senin (12/1/2026), cicit Kyai Raden Mas Su’ud, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur, menegaskan bahwa situs bersejarah tersebut bukan sekadar peninggalan keagamaan, tetapi juga bagian dari fondasi moral bangsa.

“Masjid ini adalah saksi sejarah bagaimana nilai tauhid, disiplin, dan keteguhan hidup ditanamkan sejak awal. Ini selaras dengan spirit ketahanan nasional bahwa kekuatan bangsa tidak hanya bertumpu pada senjata, tetapi juga pada nilai dan karakter,” ujar Gus Lilur.
Ia menilai, bangunan berusia lebih dari 200 tahun itu layak dipandang sebagai bagian dari warisan strategis bangsa yang mencerminkan daya tahan ideologis dan spiritual masyarakat Nusantara. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan Kyai Raden Mas Su’ud relevan dengan semangat pengabdian dan patriotisme yang juga dijunjung tinggi di lingkungan militer.
Gus Lilur juga menyampaikan harapannya agar situs tersebut mendapat perhatian lebih serius sebagai bagian dari sejarah nasional, sekaligus inspirasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan leluhur dan memperkuat jati diri bangsa.
“Dari tempat sederhana seperti ini, lahir kekuatan besar yang membentuk peradaban. Ini pelajaran penting bagi siapa pun yang hari ini mengabdi untuk negara,” katanya.
Hingga kini, masjid kayu di Desa Kayuputih tersebut masih digunakan oleh warga sekitar dan tetap berdiri sebagai penanda bisu perjalanan panjang sejarah Islam, budaya, dan ketahanan masyarakat di Situbondo.(*)
Editor: Sulaiman












