Santri Masuk Kawasan Transmigrasi, Wamen Viva Yoga Dorong Alumni Sunan Drajat Jadi Penggerak Ekonomi Baru

Lamongan, Jawa Timur – Kawasan transmigrasi kini tidak lagi dipandang semata sebagai wilayah penempatan penduduk. Sejumlah kawasan transmigrasi telah berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru yang membutuhkan sumber daya manusia, investasi, inovasi, dan pelaku usaha.

Peluang tersebut dinilai dapat diisi oleh kalangan santri dan alumni pesantren yang memiliki bekal keagamaan sekaligus pengalaman kewirausahaan.

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendorong alumni Pondok Pesantren Sunan Drajat untuk mengambil peran dalam mengembangkan perekonomian di kawasan transmigrasi.

Ajakan itu disampaikan Viva Yoga ketika menjadi pembicara utama dalam Seminar Nasional bertema “Kemandirian Pesantren Melalui Transmigrasi” yang digelar Persatuan Santri Alumni Sunan Drajat (Pessandra) di Hall Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Rabu (30/9/2026).

Menurut Viva Yoga, pengalaman Pondok Pesantren Sunan Drajat dalam membangun kemandirian ekonomi dapat menjadi model yang dikembangkan lebih luas, termasuk di kawasan transmigrasi.

“Pendidikan yang diajarkan di Pondok Pesantren Sunan Drajat tidak hanya tentang agama namun juga mengembangkan perekonomian, kewirausahaan, sosial, dan aktivitas lain yang terkait keumatan. Apa yang dilakukan di Sunan Drajat bisa dijadikan contoh untuk pesantren lainnya di Indonesia”, ujar Viva Yoga.

Di hadapan ratusan alumni, santri, dan pengasuh pesantren, Viva Yoga menilai kawasan transmigrasi memiliki ruang yang luas bagi generasi muda pesantren untuk berkontribusi melalui kewirausahaan dan investasi.

“Kawasan transmigrasi butuh pengembangan. Di sana ada lahan yang membutuhkan sumber daya manusia untuk berinovasi dan berinvestasi”, ungkapnya.

Viva Yoga mencontohkan bagaimana Pondok Pesantren Sunan Drajat yang didirikan Prof. Dr. KH. Abdul Ghofur telah mengembangkan berbagai unit usaha.

Menurut dia, aktivitas ekonomi di lingkungan pesantren tersebut mencakup sektor pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, tata rias, dan berbagai bidang lainnya.

“Ada unit usaha pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, tata rias, dan yang lainnya”, ujarnya.

Unit-unit usaha tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, antara lain garam, telur, pupuk, dan ayam potong.

“Semua dijalankan dengan produk turunan garam, telur, pupuk, dan ayam potong”, tambahnya.

Viva Yoga menyebut pola tersebut turut menopang kemandirian pangan sekaligus menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi pusat pengembangan ekonomi masyarakat.

Bagi Kementerian Transmigrasi, pengalaman seperti yang dilakukan Sunan Drajat dapat menjadi bekal penting bagi santri dan alumni pesantren untuk masuk ke kawasan transmigrasi.

Kawasan yang terus berkembang tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai lapisan pelaku ekonomi, mulai dari investor dengan modal besar hingga pelaku UMKM.

Kementerian Transmigrasi Siapkan Ruang bagi Santri

Pemerintah, kata Viva Yoga, tidak hanya membuka peluang usaha bagi santri dan alumni pesantren. Infrastruktur pendukung aktivitas keagamaan juga telah dibangun di sejumlah kawasan transmigrasi.

Sejak 2015 hingga 2024, Kementerian Transmigrasi disebut telah menginvestasikan lebih dari Rp20 miliar untuk pembangunan Islamic Centre, asrama santri, dan masjid di berbagai kawasan transmigrasi.

Pembangunan tersebut antara lain dilakukan di Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara.

Menurut Viva Yoga, pembangunan infrastruktur keagamaan tersebut perlu dilanjutkan dengan penguatan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Infrastruktur fisik telah dibangun, kini saatnya mengisi infrastruktur ekonomi yang digerakan para santri”, ujar pria asal Lamongan tersebut.

Dengan demikian, keberadaan santri di kawasan transmigrasi tidak hanya diharapkan memperkuat kehidupan sosial-keagamaan masyarakat, tetapi juga ikut mendorong aktivitas ekonomi dan kemandirian kawasan.

Dalam seminar tersebut, Viva Yoga juga menyoroti karakter pendidikan di Sunan Drajat yang tidak berhenti pada penguasaan ilmu agama.

Menurutnya, pendidikan di pesantren tersebut juga diarahkan pada penerapan nilai-nilai yang diwariskan pendirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait pendidikan agama, pesantren yang berada di Kecamatan Paciran tersebut tidak hanya mendalami pemahaman secara tekstual dan kontekstual, tetapi juga mempelajari serta mengimplementasikan pesan pendiri pondok dalam kehidupan sehari-hari.

“Apa yang menjadi pesan KH. Ghofur harus diamalkan”, tuturnya.

Seminar nasional tersebut dihadiri Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat H. Murobby Binnur, Ketua Umum Pessandra S. Muhajirin, Direktur Utama Lembaga Perekonomian H. Anas Al Hifni, serta ratusan alumni, santri, dan pengasuh pesantren.

Melalui forum tersebut, gagasan pengembangan pesantren dan kawasan transmigrasi dipertemukan dalam satu agenda: mendorong sumber daya manusia santri agar tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan keagamaan, tetapi juga mengambil peran dalam pembangunan ekonomi di wilayah-wilayah pertumbuhan baru.(*)

(Ardi W/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *