Fakfak, – Di Kampung Kramongmongga, yang terletak di Distrik Kramongmongga, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, sebuah peristiwa kecil terjadi, terlalu sederhana untuk jadi headline, tapi cukup hangat untuk menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Prajurit-prajurit Pos Kramongmongga dari Satgas Yonif 642/Kapuas tidak datang dengan perintah, tidak pula dengan iring-iringan. Mereka datang dengan niat tulus: menjalin silaturahmi, menyapa warga, dan berbagi tawa. Dalam langkah mereka, tak ada arogansi, yang ada hanyalah kerinduan akan kedekatan manusia.
Di rumah Bapak Tian, salah satu tokoh warga setempat, kehangatan itu hadir. Tidak ada seremoni. Hanya duduk di beranda, secangkir kopi lokal, dan cerita-cerita sederhana tentang kehidupan kampung. Namun di balik itu, terjalin ikatan yang tak kasat mata, sebuah rasa percaya, pengakuan sebagai saudara, dan perasaan bahwa negara hadir bukan hanya lewat kebijakan, tapi lewat kehadiran nyata.
Dalam keterangannya, Sabtu (7/6/2025), Komandan Pos Kramongmongga menegaskan bahwa kegiatan komunikasi sosial (komsos) ini bukan sekadar program.
“Kami datang bukan hanya untuk memantau keamanan, tapi untuk merawat persaudaraan. Di sini, kami belajar bahwa menjaga kampung berarti juga menjaga hati penghuninya.”
Personel Pos Kramongmongga juga memastikan bahwa kondisi kampung tetap aman dan kondusif, tanpa gejolak, tanpa keresahan. Tapi lebih dari itu, mereka memastikan bahwa warga merasa didengarkan, dihargai, dan tak dibiarkan sendiri menghadapi kerasnya hidup di pelosok negeri.
Bagi warga seperti Bapak Tian, kehadiran prajurit di rumahnya bukanlah gangguan, tapi justru hadiah yang jarang datang.
“Saya merasa senang sekali. Anak-anak muda ini datang bukan hanya sebagai tentara, tapi seperti anak sendiri. Duduk, mendengar, dan tertawa bersama kami. Ini bukan sekadar tugas, ini perhatian yang tulus.”
Dari Kampung Kramongmongga, kita belajar bahwa membangun negeri tak selalu soal pembangunan fisik atau operasi besar. Kadang cukup dengan mengetuk pintu, menyapa hangat, dan duduk bersama. Karena dalam dunia yang terus bergegas, perhatian adalah kemewahan dan itulah yang dibawa para prajurit hari itu.
Di tanah Papua yang luas dan penuh cerita, prajurit-prajurit ini sedang menulis babak baru: kisah tentang tentara yang merangkul, bukan menaklukkan. Tentara yang hadir bukan hanya untuk menjaga, tapi juga untuk mengasihi.(*)
Editor: Sulaiman










