Membangun Asa Anak Istimewa, Meneguhkan Akses Inklusi di Banjarnegara

Diferensia318 Views

 

Banjarnegara, – Peringatan Hari Anak Sedunia setiap 20 November bukan sekadar seremoni tahunan. Di Banjarnegara, momentum ini menjadi pengingat bahwa setiap anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh peluang untuk berkembang.

Dalam sebuah podcast kampus pada hari ini, Kamis (20/11/2025), Mundriati, A.Md.TW, praktisi pendidikan anak berkebutuhan khusus sekaligus pendiri Rumah Terapi Pelangi Insan Madukara, menegaskan bahwa setiap anak lahir dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing.

“Semua anak itu unik dan memiliki keunggulan sendiri. Tugas kita sebagai orang tua dan pendidik adalah memahami kondisi mereka, bukan memaksa mereka mengikuti standar yang sama,” ujarnya.

Salah satu orang tua murid, Intan, membagikan pengalaman emosional tentang perjuangannya mendampingi putranya menjalani terapi.

“Saya menunggu lima tahun untuk mendengar anak saya memanggil saya ‘ibu’. Itu momen yang sangat spesial, karena di rumah semua orang memanggil saya ‘bunda’,” tuturnya.

Kisah-kisah seperti ini, kata Mundriati, menjadi pengingat bahwa pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan dukungan lingkungan.

Mundriati mengungkapkan keprihatinannya melihat semakin banyak anak berkebutuhan khusus di Banjarnegara yang belum mendapatkan akses layanan pendidikan memadai. Hal itu mendorongnya merintis gagasan pendirian lembaga pendidikan inklusif di daerah tersebut.

“Di Banjarnegara belum ada sekolah inklusif yang benar-benar terstruktur. Padahal banyak orang tua yang sangat berharap anak mereka bisa belajar bersama teman-teman sebaya tanpa diskriminasi,” katanya.

Pendidikan inklusif, lanjut dia, bukan hanya memberi ruang bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar di sekolah umum, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman dan mendorong semua anak mencapai perkembangan optimal.

“Ketika anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama teman lainnya, mereka tumbuh lebih percaya diri. Sementara anak lain belajar menerima perbedaan sejak dini. Itulah esensi inklusi,” pungkas Mundriati.

Peringatan Hari Anak Sedunia di Banjarnegara tahun ini menjadi pengingat bahwa perjuangan mewujudkan pendidikan ramah inklusi masih panjang. Namun semangat para orang tua, pendamping, dan pegiat pendidikan memberi harapan bahwa akses setara untuk semua anak bukan sekadar cita-cita, melainkan sebuah keniscayaan yang terus diperjuangkan.(*)

(Rudolf/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *