Surabaya, Jawa Timur – Sejumlah mahasiswa Universitas Airlangga menggandeng ibu rumah tangga di Kelurahan Mulyorejo, Surabaya, mengolah limbah kulit buah menjadi pupuk organik cair. Kegiatan ini dilakukan untuk mendukung penerapan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya poin ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Program tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Belajar Bersama Komunitas (BBK) 7 UNAIR dalam bentuk pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga. Kegiatan berlangsung di Balai RW Kelurahan Mulyorejo pada Minggu (11/1/2026).
Inisiatif ini berangkat dari persoalan sederhana yang kerap dihadapi warga, terutama ibu rumah tangga, yakni tingginya volume sampah kulit buah yang belum terkelola dengan baik. Padahal, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan sekitar 60 persen food waste dunia berasal dari rumah tangga. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sampah makanan mencapai 55 persen dari total limbah pangan.
Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memperkenalkan konsep dasar pupuk organik cair, manfaatnya bagi kesuburan tanah, serta dampaknya terhadap pengurangan limbah rumah tangga. Warga juga diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk dengan bahan yang mudah diperoleh, seperti kulit buah, gula, air, cairan EM4, serta wadah bekas berupa galon atau jerigen.
“Selama ini kulit buah sering dianggap tidak berguna dan langsung dibuang. Padahal, jika difermentasi, limbah ini bisa menjadi pupuk cair yang bermanfaat untuk tanaman,” ujar Muhammad Farhan Pratomo, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISIP UNAIR, yang terlibat dalam kegiatan tersebut dalam keterangannya pada media ini, Sabtu (31/1/2026).
Hal senada disampaikan Batrisyia Irma Hanifah, mahasiswa Program Studi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR. Menurut dia, kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga mendorong kesadaran warga akan gaya hidup berkelanjutan di lingkungan perkotaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa upaya mendukung SDGs bisa dimulai dari skala kecil, seperti rumah tangga dan komunitas lokal, dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar,” katanya.
Selain mendukung SDGs poin 12, kegiatan ini juga dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya, seperti kota dan permukiman berkelanjutan serta kemitraan untuk mencapai tujuan. Program tersebut menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat, salah satu unsur Tridharma Perguruan Tinggi.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa dan warga berharap pengelolaan limbah organik rumah tangga dapat menjadi kebiasaan baru yang berdampak langsung pada kebersihan lingkungan sekaligus ketahanan ekosistem di tingkat lokal.(*)
Editor: Sulaiman












