Bogor, Jawa Barat – Kota Bogor memperingati Hari Jadinya yang ke-544 pada Rabu (3/6/2026). Peringatan tahun ini dinilai tidak hanya menjadi momentum merayakan sejarah panjang kota yang berakar dari Kerajaan Pajajaran, tetapi juga saat yang tepat untuk mengevaluasi berbagai persoalan perkotaan yang masih dihadapi.
Pemerhati lingkungan dan budaya, Andy Java, mengatakan usia lebih dari lima abad seharusnya menjadi modal bagi Bogor untuk melakukan lompatan pembangunan yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
“Perayaan hari jadi tentu penting sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana momentum ini menjadi ruang refleksi untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Kota Bogor saat ini,” ujar Andy dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Menurut Andy, Bogor memiliki warisan sejarah dan budaya yang kuat. Kota ini dikenal sebagai rumah bagi Kebun Raya Bogor, salah satu pusat konservasi tumbuhan tertua di Asia Tenggara, serta Istana Bogor yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia.
Selain itu, identitas sebagai Kota Hujan dan pusat budaya Sunda juga menjadi kekuatan yang membedakan Bogor dari kota-kota lain di kawasan metropolitan Jakarta.
Meski demikian, Andy menilai sejumlah persoalan mendasar masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara serius. Kemacetan lalu lintas, banjir, berkurangnya ruang terbuka hijau, serta pengelolaan sampah menjadi tantangan yang terus mengemuka seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.
“Bogor tidak boleh hanya bangga dengan sejarahnya. Tantangan perkotaan yang semakin kompleks membutuhkan langkah nyata dan kolaborasi dari semua pihak,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. Keterlibatan masyarakat, akademisi, komunitas lingkungan, dan sektor swasta diperlukan untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan.
Andy menilai semangat pembangunan yang selama ini diusung melalui konsep “Bogor Teu Nyusahkeun” perlu diwujudkan dalam kebijakan yang berdampak langsung pada kualitas hidup warga.
“Ukuran keberhasilan sebuah kota bukan hanya dari pertumbuhan fisik atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kenyamanan warga, kualitas lingkungan, dan kemampuan kota itu menjaga warisan sejarahnya,” ujarnya.
Hari Jadi Kota Bogor diperingati setiap 3 Juni untuk mengenang penobatan Sri Baduga Maharaja sebagai Raja Pakuan Pajajaran pada 3 Juni 1482. Tahun ini, peringatan tersebut menandai perjalanan 544 tahun Bogor sebagai salah satu kota bersejarah yang terus berkembang menjadi pusat permukiman, pendidikan, dan ekonomi di wilayah Jawa Barat.
Menurut Andy, peringatan hari jadi seharusnya menjadi momentum untuk memastikan pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada kebutuhan saat ini, tetapi juga memperhatikan kepentingan generasi mendatang.
“Harapannya, Bogor dapat terus tumbuh sebagai kota yang nyaman dihuni, mampu menjaga identitas sejarah dan budayanya, serta semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan perkotaan,” katanya.(*)
Editor: Sulaiman







