Hari Raya Ketupat, Pedagang Janur Dadakan di Malang Untung Besar

Ekonomi16 Views

Malang, Jawa Timur – Senyum Mardiah mengembang. Dengan sabar dia melayani pembeli ketupat yang mengerumuninya di sisi timur Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (27/3/2026). Sesekali dia menukarkan uang kepada rekannya sebagai kembalian untuk pembeli.

Mardiah (44) adalah salah satu penjual ketupat dadakan diantara puluhan pedagang ketupat di pasar itu. Sehari-hari Mardiah adalah ibu rumah tangga biasa. Mardiah tidak sendiri. Di sebelahnya, sekitar tiga ibu sebaya Mardiah yang menawarkan ketupat . Mereka bertetangga dan tinggal di sekitar pasar Kepanjen. Tahun ini adalah tahun ketiga, mereka menjual ketupat dadakan.

“Awalnya diajak bulik jualan ketupat saat lebaran ketupat. Lho kok untungnya lumayan. Lalu saya ajak teman teman (tetangga) yang mau berjualan. Jadilah kami jualan sejak tahun 2024 sampai sekarang,” kata Madiah sambil mengenalkan tiga ibu tetangganya itu. Mereka berjualan sejak tgl 4 Syawal  atau 24 Maret 2026 lalu.

Di kalangan orang Jawa, lebaran ketupat atau kupatan tahun ini, jatuh pada 8 Syawal atau Sabtu (28/3/2026). Tapi biasanya para ibu mengolah ketupat sejak Kamis atau Jumat karena para bapak harus membawa ketupat itu ke masjid atau mushola pada Jumat sore, untuk kenduren. Esoknya, yaitu puncak hari raya ketupat, mereka membagi ketupat dan sayurnya itu ke sanak saudara dan tetangga untuk bersilaturahmi dan kembali saling maaf memaafkan. Jika rumah kerabat jauh, mereka tak segan mengantar sajian itu ke rumah mereka.

Sajian itu berupa ketupat, lontong, lepet dan sayur santan. Karena itu para pedagang ketupat di pasar, menyediakan 4 macam barang jualan yaitu lembaran janur, ketupat kosong (keranjang ketupat) dan ketupat matang serta lepet. Lembaran janur dalam ikatan kecil ( 20 lembar) mereka jual 10 ribu rupiah. Sepuluh ketupat matang dalam satu ikat, mereka jual 35 ribu rupiah. Ketupat kosongan mereka jual 12 ribu rupiah untuk 10 ketupat kosong.

Mardiah dan sesama pedagang ketupat dadakan di timur Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang nampak menjajakan ketupatnya, Jumat (27/3/2026). (foto: Brawijaya Insider)

“Awalnya, kami jual lembaran janur dan ketupat kosong. Tapi sejak dua hari lalu, sampai hari minggu nanti, kami hanya jual ketupat matang dan lepet karena banyak oang yang mencari itu. Mungkin mereka tak sempat mengolah ketupat di rumah, “kata Mardiah. Selain itu, banyak oang sekarang yang tidak punya waktu untuk merangkai janur menjadi ketupat kosong. Sebagian lagi malah tidak bisa. Selama empat hari berjualan itu mereka beromzet sekitar 1,5 – 3,5 juta.

Tak jauh dari Mardiah, ada satu bedak panjang yang ditunggu oleh Anis (37) dan anak sulungnya, Arif, 10. Anis sehari hari adalah pedagang ayam, kelapa dan lele di pasar Kepanjen Namun pada hari besar seperti Idulfitri dan Idul Adha, dia berjualan janur dan ketupat.

“Yang paling laris sekarang ya janur, ketupat dan kelapa, ” katanya. Ayam juga banyak yang cari namun kalah dengan kelapa dan ketupat.

Anis ditemani putranya tampak menjajakan ketupat miliknya di Pasar Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (27/3/2026). (foto: Brawijaya Insider)

Berbeda dengan Mardiah dan Anis, Suwito (55), yang merupakan pedagang asal desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, sehari-hari berjualan sayur mayur seperti bayam, kacang panjang, jagung dan lain sebagainya di Pasar Gadang, Malang. Pasar Gadang merupakan salah satu pasar yang merupakan rujukan para pedagang eceran kawasan Malang Selatan untuk kulakan. Pada masaIdulfitri seperti sekaang ini, dia menambah jualannya dengan janur.

Sayuran dan janur yang dibawa Suwito cukup banyak. Siang hari, dia berangkat dengan membawa pick-up ke pasar Gadang. Dia berjualan di sana sampai menjelang subuh. Setelah subuh dia bergeser ke Pasar Pakisaji, sekitar tujuh kilometer dari pasar Gadang, arah Selatan. Di dua pasar itu Suwito bisa menjual ratusan hingga ribuan lembar janur.

“Omzet janur saja, bisa mencapai satu juta perhari bahkan lebih, selama puncak permintaan hari raya ketupat,” kata Suwito yang membawa keponakannya untuk ikut berjualan.Selagi mereka menunggu dagangan, mereka merangkai janur menjadi ketupat kosong. Sampai Jumat, mereka sudah berjualan janur selama lima hari. Karena omzet yang lumayan itu, mereka selalu menambahkan janur pada masa kupatan, setiap tahunnya.

Pengolahan Ketupat Butuh Waktu Lama

Pada hari raya ketupat, ketupat disajikan bersama sayur bersantan. Bisa berupa lodeh, opor atau sayur bersantan lainnya. Di daerah seperti Trenggalek, bahan lodeh untuk kupatan adalah tewel (nangka muda). Tapi di Malang, Blitar dan sekitarnya, bahan lodeh bisa dari labu siam, kacang panjang yang dipadukan tanpa atau dengan daging sapi atau ayam. Kadang sajiannya bersama lontong dan sambal goreng kentang. Rata-rata sayur lodeh ini bercita rasa pedas.

Yang paling menguras energi adalah mengolah sajian itu, karena membutuhkan tenaga dan waktu yang lama. Mula-mula, semua beras dan beras ketan harus direndam air selama satu sampai dua jam. Setelah itu, baru siap diolah. Lontong misalnya, perlu direbus selama enam jam sejak air mendidih. Sedangkan ketupat, harus direbus selama lima jam dan lepet yang merupakan campuran ketan putih, kelapa muda parut, sedikit garam, dan kacang tolo (kacang tunggak), perlu direbus selama empat jam.

Mistri tampak asyik dan serius membuat lepet di rumahnya di daerah Pakisaji, Kabupaten Malang, Jumat (27/3/2026). (foto: Brawijaya Insider)

“Kalau ketupat atau lontong tidak direbus lama, artinya gak tanak, mudah bau. Kalau tanak, dia awet lebih dari sehari,” kata Mistri, 55 tahun, penduduk Pakisaji yang memasak lontong dan ketupat untuk keluarga besarnya. Jika air mulai berkurang dalam rebusan ketupat, perlu diguyur air mendidih dan bukan air dingin.

Karena perlu waktu lama itulah, biasa dalam satu keluaga besar hanya satu orang yang masak untuk seluruh keluarga besarnya dalam panci yang sangat besar. Atau mereka mengambil praktisnya , yaitu membeli ketupat matang di pasar.(*)

(Indah/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *