Gus Lilur Tegaskan BIG Siap Amankan Pasokan Kapur Strategis bagi Smelter Nikel Nasional

Ekonomi65 Views

Jakarta, – Ketersediaan kapur sebagai bahan baku utama dalam proses smelting nikel dinilai menjadi faktor strategis dalam menjaga keberlanjutan industri nikel nasional. Di tengah meningkatnya jumlah smelter nikel di Indonesia, pengamanan rantai pasok kapur dipandang krusial untuk menjamin stabilitas produksi dan ketahanan industri hilirisasi mineral.

Founder dan Owner Bandar Indonesia Grup (BIG), HRM Khalilur R Abdullah Shahlawiy atau yang dikenal sebagai Gus Lilur, menegaskan kesiapan BIG untuk mengambil peran strategis dalam pengamanan pasokan kapur bagi smelter nikel nasional.

“Tanpa kapur, proses smelting tidak akan berjalan. Karena itu, pasokan kapur harus dipastikan aman, berkelanjutan, dan terdistribusi secara efisien. Ini bukan semata isu bisnis, tetapi menyangkut stabilitas industri strategis nasional,” ujar Gus Lilur dalam keterangannya, Jumat (16/1/2026).

Hingga 2025, Indonesia tercatat memiliki 44 smelter nikel yang tersebar di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi terbesar di kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku Utara dan Sulawesi Tengah. Seluruh fasilitas tersebut membutuhkan kapur sebagai campuran utama dalam proses pemurnian nikel.

Menurut Gus Lilur, tantangan utama selama ini bukan pada ketersediaan sumber daya kapur, melainkan pada aspek logistik. Banyak tambang kapur berada jauh dari jalur laut, sementara sebagian besar smelter berlokasi di wilayah pesisir dan kepulauan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerentanan pasokan jika tidak diantisipasi secara sistematis.

Untuk menjawab tantangan itu, BIG menyiapkan tambang kapur di kawasan Sumenep, Jawa Timur, yang berada langsung di tepi laut. Lokasi tersebut dinilai strategis karena memungkinkan distribusi kapur melalui jalur laut menuju pusat-pusat smelter nikel di seluruh Indonesia.

“Tambang kapur pesisir memungkinkan pengiriman dalam skala besar, lebih cepat, dan lebih efisien. Ini penting untuk memastikan tidak ada gangguan pasokan yang dapat memengaruhi operasional smelter,” kata Gus Lilur yang juga Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) itu.

BIG saat ini memiliki 275 tambang kapur di Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan sebagian di antaranya diproyeksikan menjadi tulang punggung pasokan kapur bagi industri nikel. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari penguatan rantai logistik strategis nasional yang menopang hilirisasi mineral dan ketahanan ekonomi.

Dalam perspektif strategis, pengamanan bahan baku kunci seperti kapur dipandang selaras dengan kepentingan nasional, mengingat industri nikel merupakan salah satu sektor prioritas dalam mendukung kemandirian industri dan daya saing Indonesia di tingkat global.

“Industri strategis harus ditopang oleh logistik yang kuat. Jika rantai pasoknya aman, maka produksi stabil dan kepentingan nasional bisa dijaga,” tegas pengusaha muda NU asal Situbondo Jawa Timur itu mengakhiri keterangannya.(*)

Editor: Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *