Saudara-saudara sebangsa, dan setanah air.
Izinkan saya berbicara dengan terus terang. Bukan sebagai jenderal yang ingin menggurui, tetapi sebagai seorang yang pernah duduk di ruang-ruang pengambilan keputusan dan menyaksikan sendiri bagaimana perang dan diplomasi sering kali hanya soal mencari muka, bukan menyelamatkan nyawa.
Kita semua mendengar kabar gembira bahwa gencatan senjata diperpanjang. Trump bilang itu “langkah menuju perdamaian”. Media-media besar ikut menyiarkannya seolah perang akan segera berakhir. Saya katakan, “jangan tertipu!”
Gencatan senjata sepihak Trump bukanlah jalan keluar. Ini adalah off-ramp yang lahir dari kelemahan, bukan dari kebaikan hati. Dan sementara dunia bertepuk tangan, Iran sedang bermain catur di papan yang berbeda dengan Pakistan sebagai kurir pesan dan Vladimir Putin sebagai tujuan akhir.
Saya akan jelaskan secara berurutan, dengan data intelijen terbuka yang bisa saya akses sebagai pengamat kawasan. Saya tidak akan basa-basi.
Gencatan Senjata Sepihak Trump Sebuah Pengakuan Kelemahan Terselubung
Mari saya luruskan sejak awal. Presiden Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas. Ia bahkan sempat mengatakan “mengharapkan pemboman segera”, lalu berbalik 180 derajat mengumumkan perpanjangan gencatan. Ini bukan strategi jenius. Ini adalah kebingungan strategis yang ditutupi oleh retorika.
Mengapa saya berani mengatakan demikian? Karena saya membaca laporan-laporan logistik.
Berdasarkan laporan Bloomberg yang dirilis 23 April 2026, sumber yang kredibel, bukan isapan jempol bahwa stok amunisi darat AS saat ini diperkirakan hanya cukup untuk 14 hingga 21 hari pertempuran intensitas tinggi. Ini disebut oleh para analis militer sebagai “darurat amunisi diam-diam”.
Artinya apa? Artinya Amerika Serikat saat ini secara logistik tidak mampu memulai perang panjang melawan Iran. Perang di Ukraina telah menguras persediaan amunisi NATO. Gudang-gudang amunisi AS kosong. Sementara Iran, dengan produksi rudal tersebar, masih memiliki ribuan rudal balistik dan anti-kapal yang siap diluncurkan.
Jadi ketika Trump bilang”punya semua kartu”, jangan percaya. Yang benar adalah: AS sedang mencari pintu keluar yang terhormat. Gencatan senjata sepihak adalah caranya menyelamatkan muka tanpa harus mengakui di depan umum bahwa persediaan amunisinya menipis.
Inilah yang dalam bahasa militer disebut off-ramp. Dan saya katakan: tidak ada yang salah dengan mengambil jalan keluar. Yang salah adalah membungkusnya dengan klaim kemenangan ketika faktanya AS sedang mundur.
Diplomasi Kurir Iran, Ini Bukan Negosiasi, Ini Penghinaan Terselubung
Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi di Islamabad. Dunia diberitahu bahwa utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dikirim ke Pakistan untuk bertemu dengan Menteri Luar Iran, Abbas Araghchi. Tapi apa yang terjadi?
Iran menolak bertemu langsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dengan gamblang menyatakan bahwa tidak ada rencana pertemuan dengan perwakilan AS. Bahkan perjalanan utusan AS pun akhirnya dibatalkan oleh Trump sendiri, yang menyebutnya “buang-buang waktu”.
Lalu apa yang dilakukan Araghchi di Islamabad? Dia menyampaikan pesan tertulis melalui Pemerintah Pakistan. Artinya: Iran memilih menggunakan kurir seperti halnya dua negara bermusuhan di abad pertengahan, bukan duduk satu meja dengan utusan negara adidaya.
Ini bukan sekadar taktik diplomatik. Ini adalah penghinaan terselubung.
Dengan menggunakan Pakistan sebagai “juru bicara”, Iran mengirim sinyal yang jelas kepada Amerika, “Kami tidak menganggap AS layak untuk diajak bicara langsung. Cukup utusan kami melalui perantara yang akan berbicara dengan Anda.” Isi pesan yang disampaikan juga tidak main-main.
Pertama, pencabutan total blokade laut AS.
Kedua, ganti rugi perang.
Ketiga, jaminan keamanan jangka panjang tanpa agresi militer di masa depan.
Dan yang paling penting, Iran menegaskan bahwa ini tidak terkait dengan masalah nuklir. Artinya, isu nuklir dipisahkan sama sekali sehingga AS tidak bisa menggunakan program nuklir Iran sebagai alat tawar-menawar dalam konflik ini.
Saya ingin bertanya kepada para analis yang optimis, menurut Anda, apakah Amerika akan menerima tuntutan ini? Jawabannya: tidak. Maka kita sedang berjalan di tempat. Gencatan senjata diperpanjang, tapi kurir terus bolak-balik, sementara tidak ada kemajuan berarti.
Mengapa Putin Menjadi Tujuan Akhir, Data Intelijen yang Harus Membuat Kita Bergidik
Setelah Islamabad dan kunjungan singkat ke Oman, Araghchi terbang ke Moskow. Ia bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin dan pejabat senior Rusia. Araghchi sendiri menyebut pertemuan itu sebagai “kesempatan diskusi yang baik dalam membicarakan perang yang sedang terjadi.”
Perhatikan frasa itu: perang yang sedang terjadi. Bukan “gencatan senjata”, bukan “negosiasi perdamaian”. Perang. Iran masih menganggap dirinya dalam kondisi perang, dan mereka membawa diskusi itu ke meja Putin bukan ke meja Trump.
Sekarang kita paham, mengapa Iran begitu percaya diri menolak bertemu langsung dengan AS. Mereka punya data intelijen dari Rusia. Mereka punya satelit yang mengawasi setiap gerak-gerik militer AS. Mereka punya dukungan siber dari peretas-peretas Rusia yang sudah teruji dalam perang di Ukraina.
Dan Putin? Apa yang dia dapatkan dari semua ini? Harga minyak yang melonjak akibat blokade Selat Hormuz, pelemahan posisi AS di Timur Tengah, dan uji coba teknologi perang modern yang bisa diaplikasikan di Ukraina. Putin bermain catur, sementara Trump hanya bermain kartu.
Kebuntuan yang Rapuh, Skenario Paling Mungkin ke Depan
Setelah kita melihat semua fakta di atas, gencatan senjata sepihak yang lahir dari kelemahan logistik AS, diplomasi kurir Iran yang merupakan penghinaan terselubung, serta poros intelijen Rusia-Iran yang sudah berjalan nyata maka kita harus berani bertanya: lalu di mana posisi kita saat ini? Dan ke mana arahnya?
Saat ini, gencatan senjata secara teknis memang masih bertahan. Belum ada tembakan besar dalam beberapa pekan terakhir. Tapi jangan keliru: tidak ada kemajuan berarti. Para kurir dari Pakistan, dari Oman, bahkan dari Qatar masih bolak-balik membawa pesan yang intinya sama sejak awal. Iran minta blokade dicabut. AS minta Iran mundur dari ancaman nuklir dan rudalnya. Keduanya tidak bergerak satu inci pun dari posisi awal.
Dan di tengah kebuntuan itu, Selat Hormuz tetap tertutup. Kapal-kapal tanker tidak berani melintas. Iran dengan tegas menyatakan: blokade tidak akan dicabut sebelum blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran diangkat. Sementara AS tidak akan mengangkat blokadenya sebelum Iran duduk satu meja dan menyetujui persyaratan yang diajukan Washington.
Maka jadilah jalan buntu yang sempurna. Sebuah kebuntuan yang nyaris mustahil dipecahkan kecuali salah satu pihak bersikap lunak dan sejauh ini, tidak ada tanda-tanda kelunakan dari kedua kubu.
Saya ingin menyampaikan satu hal yang mungkin tidak banyak disuarakan media: diplomasi langsung antara AS dan Iran sampai hari ini tidak memiliki jadwal sama sekali. Iran secara terbuka menolak bertemu langsung dengan utusan AS. Bahkan ketika utusan itu sudah dikirim ke Islamabad, perjalanannya dibatalkan karena Iran sudah lebih dulu menyatakan tidak akan datang ke meja yang sama.
Pakistan, yang awalnya optimis bisa menjadi jembatan, kini mulai kelelahan. Sumber-sumber diplomatik di Islamabad menyebut bahwa pesan yang bolak-balik itu isinya tidak pernah berubah. Kata mereka, proses ini mulai fizzles out meredup, kehabisan tenaga, sebelum benar-benar mencapai apa pun.
Lalu bagaimana dengan Rusia? Di sinilah alarm harus berbunyi keras.
Ketika AS dan Iran berputar-putar di Islamabad tanpa hasil, Menlu Iran justru terbang ke Moskow dan duduk berjam-jam bersama Putin. Bukan untuk membahas gencatan senjata, saudara-saudara. Mereka membahas perang. Saya ulang: perang yang sedang berlangsung, bukan perdamaian yang diimpikan.
Dan yang lebih mengkhawatirkan, saya sudah sampaikan bahwa satelit Rusia secara aktif membantu Iran. Peretas Rusia dan Iran berkolaborasi di Telegram untuk melumpuhkan infrastruktur Teluk.
Maka mari kita tarik skenario paling mungkin ke depan sesuai peta yang ada:
Pertama yang paling mungkin terjadi dalam 30 hingga 60 hari ke depan: kebuntuan berlanjut. Gencatan senjata diperpanjang lagi, mungkin dengan gembar-gembor media bahwa “perdamaian sudah di depan mata”. Tapi di belakang layar, tidak ada yang berubah. Kurir tetap bolak-balik membawa tuntutan yang sama. Blokade tetap berlangsung. Harga minyak tetap tinggi. Dan rakyat kecil di Gaza, di Lebanon, di Yaman, bahkan di Indonesia terus membayar harga mahal untuk kebuntuan ini.
Kedua, kemungkinannya lebih kecil, tapi dampaknya lebih besar: suatu saat, kesabaran salah satu pihak habis. Mungkin AS merasa posisinya semakin lemah dan ingin melakukan serangan “preventif” untuk menunjukkan kekuatan sebelum pemilu. Atau mungkin Iran merasa Rusia sudah cukup menjamin keamanannya, lalu melancarkan serangan besar-besaran ke pangkalan AS di Teluk. Jika ini terjadi, gencatan senjata runtuh dalam sekejap. Dan perang terbuka yang selama ini ditakuti semua pihak akan menjadi kenyataan.
Ketiga, yang paling kecil kemungkinannya, tapi tidak mustahil: terjadi terobosan diplomatik secara tiba-tiba. Mungkin China atau Turki tiba-tiba turun tangan dengan proposal baru yang bisa diterima kedua pihak. Mungkin tekanan domestik di Iran atau AS memaksa salah satu pemimpinnya untuk mengambil jalan kompromi. Tapi sejujurnya, saudara-saudara, saya tidak melihat tanda-tanda itu sekarang. Saya hanya melihat dua ekor banteng yang sedang mengatur napas bukan untuk berdamai, tapi untuk siap tanduk kembali.
Jadi di mana Indonesia dalam semua ini?
Dengan jujur, saat ini kita masih menjadi penonton. Bukan karena kita tidak mampu, tapi karena kita belum sadar bahwa dampak kebuntuan ini sudah sampai ke dapur kita. Harga minyak dunia naik. Nilai tukar rupiah tertekan. Inflasi mulai merangkak. Dan jika kebuntuan ini berlanjut tiga bulan lagi, kita bisa menghadapi krisis energi dan ekonomi yang tidak ringan.
Saya tidak mengatakan ini untuk menakut-nakuti. Saya mengatakan ini karena panggilan tugas sebagai mantan penasihat militer untuk membaca tanda-tanda bahaya lebih awal. Dan saat ini, tanda-tanda itu sudah ada di depan mata. Yang kita perlukan bukan lagi analisis. Yang kita perlukan adalah kejujuran politik untuk mengakui bahwa status quo ini tidak bisa bertahan selamanya.
Satu kalimat yang mudah-mudahan sampai ke telinga para pengambil kebijakan di negeri kita.
“Kebuntuan yang rapuh bukanlah perdamaian. Jeda yang kosong bukanlah kemenangan. Dan selama kita hanya menonton tanpa bersiap, maka kita akan menjadi korbanbukan karena ikut berperang, tapi karena lalai membaca waktu.”
Kesimpulan
Gencatan senjata sepihak Trump adalah ilusi. Diplomasi kurir Iran adalah taktik untuk mengulur waktu. Dan Putin menjadi tujuan akhir karena Rusia telah membuktikan diri sebagai teman yang actionable memberi data intelijen, membantu peretasan, bahkan menilai kerusakan setelah serangan.
Saya tutup tulisan ini dengan satu kalimat yang mungkin keras, tapi harus dikatakan, “Perang bukan hanya tentang siapa yang menembak lebih dulu. Perang modern adalah tentang siapa yang punya intelijen lebih baik, siapa yang punya amunisi lebih banyak, dan siapa yang punya sekutu lebih setia. Dan saat ini, Iran dengan Putin di belakangnya memiliki semuanya. Pertanyaannya: apakah Indonesia akan terus menonton, atau akhirnya belajar menjadi pemain?”(*)
Jakarta 27 April 2026
MAYJEN TNI (PURN) FULAD
Penasihat Militer Republik Indonesia untuk Persatuan Bangsa-Bangsa tahun 2017-2019










