Dari Mindset hingga Pembukuan, Jalan Sunyi Pelaku Usaha Mikro Bangkit Pasca Bencana Aceh

Ekonomi71 Views

Aceh, – Bagi pelaku usaha mikro, bencana tidak hanya merusak tempat usaha dan menghilangkan modal. Lebih dari itu, bencana kerap mematahkan rasa percaya diri dan menggoyahkan harapan yang selama ini menopang keberlangsungan usaha. Di tengah kehilangan tersebut, kebangkitan tidak selalu dimulai dari bantuan besar, melainkan dari langkah kecil: menata kembali cara berpikir dan memperbaiki cara mengelola keuangan.

Pendampingan yang dilakukan sejumlah akademisi Universitas Airlangga (UNAIR) terhadap pelaku usaha mikro di Aceh menekankan dua fondasi utama kebangkitan usaha pascabencana, yakni penguatan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dan disiplin dalam pengelolaan keuangan.

Dosen Sosiologi UNAIR, Rafi Aufa Mawardi, mengatakan kebangkitan usaha berawal dari keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan.

“Bencana boleh merusak tempat usaha, tetapi jangan sampai merusak harapan. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan mencoba kembali, peluang untuk bangkit selalu ada,” ujarnya dalam kegiatan pendampingan, Sabtu (21/2/2026).

Menurut Rafi, banyak pelaku usaha terjebak dalam pola pikir tetap (fixed mindset) setelah mengalami kerugian. Kehilangan modal sering dimaknai sebagai akhir, sementara turunnya pelanggan dianggap sebagai kegagalan permanen. Padahal, pola pikir bertumbuh memungkinkan pelaku usaha melihat krisis sebagai bagian dari proses untuk berkembang.

Dengan pola pikir tersebut, pelaku usaha didorong untuk mengalihkan fokus dari apa yang hilang menuju apa yang masih dimiliki, seperti keterampilan, pengalaman, relasi pelanggan, serta kemauan untuk memulai kembali, meskipun dari skala kecil.

“Memulai dari kecil bukan berarti mundur. Itu justru bagian dari proses untuk tumbuh kembali,” katanya.

Selain penguatan mental, kebangkitan usaha juga membutuhkan fondasi yang tidak kalah penting, yakni pengelolaan keuangan yang tertib dan terencana.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR, Yanuar Nugroho, menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi kunci untuk memastikan usaha dapat bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

“Keuangan harus dikelola secara disiplin agar pelaku usaha mengetahui secara pasti kondisi usahanya, mulai dari pendapatan, beban, hingga laba. Dari situ, pelaku usaha dapat mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.

Tanpa pencatatan yang baik, pelaku usaha berisiko menghadapi kesulitan likuiditas, ketidakstabilan operasional, bahkan kegagalan usaha. Sebaliknya, pencatatan keuangan sederhana memungkinkan pelaku usaha memahami posisi usahanya secara objektif dan merencanakan langkah ke depan secara lebih terukur.

Dalam pendampingan tersebut, pelaku usaha diperkenalkan pada penyusunan laporan keuangan sederhana sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM), termasuk pemahaman tentang titik impas (break-even point). Melalui pemahaman ini, pelaku usaha dapat mengetahui batas minimal penjualan agar usaha tidak merugi.

Selain itu, pelaku usaha juga didorong untuk memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat setiap transaksi, serta melakukan evaluasi secara berkala. Kebiasaan ini membantu pelaku usaha membangun disiplin dan ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian.

Bagi pelaku usaha mikro, kebangkitan memang bukan proses yang instan. Trauma, kehilangan, dan ketidakpastian masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun, melalui penguatan pola pikir dan pengelolaan keuangan yang lebih baik, pelaku usaha memiliki fondasi untuk membangun kembali usahanya secara bertahap.

“Kita harus memiliki ketahanan dan visi ke depan. Dengan pengelolaan yang baik, usaha tidak hanya bisa pulih, tetapi juga tumbuh lebih kuat,” kata Yanuar.

Pendampingan ini menunjukkan bahwa kebangkitan usaha tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya bantuan yang diterima, tetapi juga oleh kekuatan dari dalam diri pelaku usaha itu sendiri yakni kemampuan menjaga harapan, belajar dari keterbatasan, dan menata kembali langkah dengan lebih terarah.

Sebab, di tengah kehilangan, harapan yang tetap terjaga dapat menjadi modal paling awal untuk memulai kembali.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *