
Ponorogo, Jawa Timur – Semangat gotong royong bercampur tawa menjadi pemandangan yang mewarnai pembangunan empat Jembatan Garuda di Kabupaten Ponorogo. Keempat sasaran tersebut berada di Desa Slahung (Kecamatan Slahung), Desa Baosan Lor (Kecamatan Ngrayun), Desa Mojomati (Kecamatan Jetis), dan Desa Tempuran (Kecamatan Sawoo).
Di balik pengerjaan infrastruktur tersebut, tersimpan kisah kebersamaan yang memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong di Bumi Reog, sebutan lain Kabupaten Ponorogo. Sejak beberapa waktu lalu, warga dari berbagai kalangan tampak berbaur dengan personel TNI. Tanpa sekat, mereka bahu-membahu membangun Jembatan Garuda yang menjadi harapan besar bagi warga selama ini.
Tak hanya di Ponorogo, semangat gotong royong serupa juga menjadi kekuatan utama dalam pembangunan Jembatan Garuda di seluruh wilayah jajaran Korem 081/DSJ.
“Semangat gotong royong menjadi energi yang terus menggerakkan seluruh proses pembangunan Jembatan Garuda di wilayah jajaran kami,” kata Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Menurut Danrem, keterlibatan aktif masyarakat menunjukkan bahwa budaya gotong royong masih terpelihara dengan baik. Hal itu sekaligus menjadi modal penting dalam mempercepat penyelesaian berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Pembangunan Jembatan Garuda bukan hanya tentang membangun sarana penghubung, tetapi juga membangun kebersamaan dan kepedulian. Kehadiran masyarakat yang ikut bekerja bersama prajurit menunjukkan kuatnya kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.
“Tak hanya pada program Jembatan Garuda, namun juga berbagai program lainnya,” imbuhnya.
Kolonel Untoro menegaskan, program Jembatan Garuda yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto melalui TNI AD merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam membantu mengatasi keterisolasian wilayah serta membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat.
Danrem berharap, setelah selesai dibangun, jembatan tersebut dapat memberikan manfaat besar dan jangka panjang bagi masyarakat.
“Kami optimistis pembangunan Jembatan Garuda dapat memperlancar aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga mendorong pertumbuhan wilayah di sekitarnya,” terangnya.
Bagi masyarakat, kehadiran Jembatan Garuda bukan sekadar sarana penghubung antar wilayah. Lebih dari itu, jembatan ini menjadi harapan baru untuk mengangkat kesejahteraan mereka.
Mengingat besarnya harapan masyarakat terhadap kehadiran Jembatan Garuda, maka tak mengherankan jika antusiasme mereka sangat tinggi. Salah satunya seperti yang terlihat di lokasi pembangunan jembatan di Desa Baosan Lor.
Di sela kesibukan mereka yang harus memenuhi kebutuhan keluarga, warga setiap hari saling bergantian menyempatkan waktu untuk ambil bagian dalam pembangunan.
“Kami warga di sini sangat senang dengan dibangunnya Jembatan Garuda. Maka kami saling bahu-membahu dengan bapak-bapak TNI agar jembatan ini dapat segera selesai,” kata Purwo Susilo, warga Desa Baosan Lor.
Purwo mengaku, keberadaan jembatan tersebut nantinya akan sangat membantu aktivitas masyarakat. Sebelumnya, akses yang ada kerap menjadi kendala dan sulit dilalui.
“Kalau jembatan sudah jadi, akses kami akan lebih mudah. Anak-anak ke sekolah lebih lancar, hasil pertanian juga lebih cepat dibawa ke pasar. Karena itu kami mendukung penuh pembangunan ini,” ungkapnya.
Kini, seiring progres pembangunan yang terus berjalan, harapan masyarakat pun semakin besar. Empat Jembatan Garuda diharapkan dapat menjadi penggerak multi sektor di tengah masyarakat sekaligus menjadi simbol kuatnya semangat gotong royong yang tetap hidup dan terjaga di Bumi Reog.(*)
(arwang/sulaiman)












