Terima Yayasan Sukun, Wamen Viva Yoga Dorong Kebangkitan Sukun sebagai Pangan Masa Depan

POLITIKANA33 Views

Jakarta, – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mendorong pengembangan tanaman sukun sebagai salah satu komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan dan diversifikasi pangan nasional, khususnya di kawasan transmigrasi. Tanaman ini dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif sekaligus komoditas ekonomi bernilai tinggi.

Hal itu disampaikan Viva Yoga saat menerima audiensi Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera di Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Rabu (24/2/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menghidupkan kembali gagasan lama tentang “sukunisasi”, yakni program penanaman sukun di kawasan transmigrasi yang pernah dijalankan pemerintah pada era 1990-an.

“Pertemuan ini mengingatkan kita pada program sukunisasi yang pernah dilakukan di kawasan transmigrasi. Program ini perlu dikaji kembali untuk kemungkinan dikembangkan secara lebih luas,” ujar Viva Yoga.

Menurut dia, sukun memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, tidak memerlukan perawatan intensif, serta menghasilkan sumber karbohidrat yang setara dengan beras. Selain itu, tanaman sukun juga memiliki manfaat ekologis, seperti menyerap karbon, serta nilai ekonomi yang menjanjikan melalui berbagai produk olahan.

“Saya setuju untuk kembali menanam sukun karena mendukung diversifikasi pangan nasional. Sukun merupakan salah satu tanaman pangan masa depan,” kata Viva Yoga.

Potensi Besar di Kawasan Transmigrasi

Viva Yoga menjelaskan, peluang pengembangan sukun di kawasan transmigrasi sangat terbuka, mengingat Kementerian Transmigrasi saat ini mengelola 154 kawasan transmigrasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Selama ini, berbagai komoditas telah dikembangkan di kawasan tersebut, mulai dari padi, jagung, singkong, porang, ubi, hingga sagu, serta sektor perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Namun, pengembangan sukun masih terbatas dan belum menjadi program prioritas.

“Selama ini sukun sudah ada, tetapi belum dikembangkan secara masif. Penanamannya masih bersifat individual dan belum menjadi program terstruktur,” ujarnya.

Menurut Viva Yoga, pengembangan sukun dapat menjadi bagian dari strategi swasembada pangan sekaligus menyediakan alternatif pangan bagi masyarakat.

“Sukun dapat menjadi salah satu alternatif pengganti nasi karena kandungan karbohidratnya yang tinggi,” katanya.

Selain sebagai sumber pangan, sukun juga memiliki potensi besar sebagai komoditas industri. Berbagai produk turunan dapat dihasilkan dari tanaman ini, mulai dari tepung, makanan ringan, beras analog, mie instan, hingga pakan ternak.

Viva Yoga menilai, pengembangan sukun tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.

Ia mendorong Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera untuk melakukan sosialisasi dan pengembangan budidaya sukun secara lebih luas, termasuk menjajaki peluang industrialisasi berbasis komoditas tersebut.

Menurut dia, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa komoditas yang awalnya kurang dikenal dapat berkembang menjadi penopang ekonomi masyarakat jika dikelola secara konsisten.

“Ke depan, bukan tidak mungkin sukun akan menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang kesejahteraan masyarakat,” ujar Viva Yoga.

Pengembangan sukun diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih beragam, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi di kawasan transmigrasi.(*)

(ardi w/sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *