
Manggarai, Nusa Tenggara Timur – Pemulihan pasca gempa tidak hanya menyangkut perbaikan rumah dan pemenuhan kebutuhan dasar. Bagi keluarga yang masih bertahan di pengungsian, kemampuan menjaga anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas menjadi bagian penting dari ketangguhan menghadapi bencana.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui program Safe Home yang digelar di sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 6 September 2026.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas keluarga dalam menghadapi situasi darurat, memberikan perlindungan kepada kelompok rentan, sekaligus membangun ketangguhan keluarga selama proses pemulihan pascabencana.
Safe Home digelar sebagai respons terhadap gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Gempa tersebut memaksa ribuan keluarga di Manggarai tinggal di posko-posko pengungsian.
Dalam kondisi pengungsian, kelompok rentan menghadapi risiko yang lebih besar. Keterbatasan akses terhadap layanan serta tekanan psikologis akibat bencana dapat memperberat kondisi anak-anak dan lansia. Situasi itu mendorong tim PKM UNESA menempatkan keluarga sebagai unit terdepan dalam membangun ketangguhan dan perlindungan selama masa pemulihan.
“Keluarga adalah lapisan pertama perlindungan bagi kelompok rentan, terutama saat layanan formal belum sepenuhnya pulih di lokasi pengungsian. Melalui Safe Home, kami ingin memastikan setiap keluarga memiliki pengetahuan dan kepekaan untuk melindungi anggotanya, mulai dari anak-anak hingga lansia,” ujar Dr. Iman Pasu Purba Marganda Hadiarto Purba.
Program Safe Home menyasar keluarga terdampak bencana dan kelompok rentan di tujuh titik posko pengungsian yang tersebar di tiga kecamatan.
Di Kecamatan Wae Ri’i, tim melakukan pendampingan di Posko Puarwase Desa Poco dan Desa Ndehes. Tim juga menjangkau Posko Dusun Pandang Desa Poco yang memiliki jumlah kepala keluarga terdampak berat cukup tinggi.
Pendampingan berikutnya dilakukan di Posko Dusun Bung Desa Benteng Poco yang juga mencatat banyak kepala keluarga terdampak berat.
Di Kecamatan Langke Rembong, program menyasar Posko Bintang Timur Kelurahan Poco Mal dan Posko Dusun Werong Desa Bangka Lelak.
Sementara di Kecamatan Satar Mese Utara, tim mendampingi warga di Posko Dusun Nteer Desa Mata Wae.
Di setiap lokasi, tim tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang diskusi kelompok. Warga dapat menyampaikan kebutuhan spesifik keluarganya secara terbuka, sementara pelaksanaan kegiatan dikoordinasikan bersama pengurus posko.
Pendekatan tersebut dilakukan agar pendampingan tidak bersifat seragam, melainkan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan keluarga di masing-masing lokasi.
Perlindungan Kelompok Rentan
Materi Safe Home menitikberatkan pada kesiapan keluarga menghadapi keadaan darurat serta kemampuan melindungi anggota keluarga yang membutuhkan perhatian lebih.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus. Selain perlindungan fisik, keluarga juga didorong memberikan dukungan psikologis kepada sesama anggota keluarga agar proses pemulihan dapat dilakukan secara bersama-sama.
Tim juga menyampaikan pentingnya mencegah kekerasan selama berada dalam situasi bencana, memperkuat gotong royong, membangun dukungan komunitas, dan menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam membangun ketangguhan.
Penyampaian materi dilakukan melalui metode partisipatif seperti roleplay, storytelling, menyanyi, dan pendampingan langsung.
Cara tersebut dipilih agar warga tidak hanya memahami materi mengenai kesiapsiagaan dan perlindungan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari selama berada di pengungsian.
Prof. Dr. Mutimmatul Faidah mengatakan pemulihan pascabencana tidak dapat hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan fisik.
“Program ini menegaskan bahwa pemulihan bencana tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga harus memastikan rasa aman bagi kelompok yang paling rentan. Kami berharap penguatan kapasitas keluarga ini dapat menjadi fondasi ketangguhan komunitas di Manggarai dalam jangka panjang,” kata Prof. Dr. Mutimmatul Faidah.
Pendampingan di posko juga memberi kesempatan kepada warga untuk mengidentifikasi persoalan yang mereka hadapi sendiri.
Salah satu warga terdampak, Manto, mengaku pendampingan tersebut membantu keluarga memahami cara menjaga anggota keluarga di tengah situasi pengungsian.
“Bantuan seperti ini sangat berarti bagi kami yang tinggal di posko. Sejak gempa terjadi, kami merasa cemas menjaga anak dan orang tua di tengah keterbatasan. Dengan pendampingan seperti ini, kami jadi lebih paham cara menjaga keluarga tetap aman selama di pengungsian,” ujar Manto.
Bagi Tim PKM UNESA, ketangguhan menghadapi bencana tidak hanya dibangun melalui bantuan dari luar. Ketika layanan formal belum sepenuhnya pulih, keluarga memiliki posisi strategis sebagai lingkungan terdekat yang dapat memberikan perlindungan sekaligus dukungan psikologis.
Karena itu, penguatan kapasitas keluarga menjadi salah satu bagian penting dalam proses pemulihan. Keluarga yang memiliki pengetahuan dan kepekaan terhadap kebutuhan anggotanya diharapkan mampu menjadi fondasi bagi terbentuknya komunitas yang lebih tangguh.
Tim PKM UNESA berharap program Safe Home dapat direplikasi di posko-posko pengungsian lainnya. Dengan demikian, semakin banyak keluarga terdampak bencana di Flores yang memiliki kapasitas untuk melindungi anggota keluarganya yang rentan dan membangun ketangguhan bersama selama proses pemulihan.
Tim PKM UNESA dalam program tersebut terdiri atas Dr. Iman Pasu Purba Marganda Hadiarto Purba, M.Ag., Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, M.Ag., Putri Aisyiyah Rachma Dewi, S.Sos., M.Med.Kom., dan Rojil Nugroho Bayu Aji, S.Hum., M.A.(*)
(Putri/Sulaiman)







