Ketua Umum REKAN Indonesia: Puasa Harus Melahirkan Solidaritas Sosial, Bukan Sekadar Ritual!

 

Jakarta, – Ketua Umum Relawan Kesehatan (REKAN) Indonesia Agung Nugroho mengingatkan bahwa ibadah puasa Ramadan tidak seharusnya berhenti pada dimensi spiritual dan disiplin pribadi semata, tetapi harus mampu melahirkan solidaritas sosial yang nyata, terutama di tengah ketimpangan yang masih dirasakan sebagian masyarakat.

Menurut Agung, Ramadan menghadirkan momentum kolektif yang memperkuat kesadaran bersama. Namun, makna puasa akan menjadi lebih substansial apabila pengalaman spiritual tersebut mendorong kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

“Puasa bukan hanya latihan menahan diri, tetapi juga proses membangun empati dan kepekaan sosial. Dari situ seharusnya lahir solidaritas yang lebih nyata terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan,” ujar Agung dalam keterangannya, Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan, pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadan dapat menjadi sarana refleksi untuk memahami kondisi masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Namun, ia mengingatkan bahwa bagi sebagian warga, kondisi tersebut bukan pengalaman sementara, melainkan realitas sehari-hari.

“Bagi banyak orang, lapar adalah ritual yang berakhir saat berbuka. Tetapi bagi sebagian lainnya, itu adalah kondisi yang berlangsung terus-menerus. Di sinilah puasa seharusnya mendorong kesadaran sosial yang lebih dalam,” katanya.

Agung menilai, berbagai kegiatan berbagi yang marak selama Ramadan, seperti pembagian takjil dan bantuan sembako, merupakan bentuk kepedulian yang penting. Namun, ia menekankan bahwa solidaritas sosial tidak seharusnya berhenti pada kegiatan yang bersifat sesaat.

“Berbagi adalah langkah awal yang baik. Tetapi solidaritas sosial yang lebih substantif harus diwujudkan melalui upaya berkelanjutan, termasuk mendorong kebijakan dan tindakan yang berpihak pada kelompok rentan,” ujarnya.

Menurut dia, puasa memiliki dimensi etis yang dapat membentuk karakter individu sekaligus kesadaran kolektif. Melalui ibadah tersebut, masyarakat diajak untuk tidak hanya memperkuat hubungan spiritual, tetapi juga mempererat tanggung jawab sosial.

Agung menambahkan, Ramadan dapat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali hubungan antara kesalehan pribadi dan kepedulian sosial. Ia berharap, nilai-nilai yang dibangun selama Ramadan tidak berhenti sebagai pengalaman musiman, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

“Ramadan adalah kesempatan untuk menguji sejauh mana ibadah mampu melahirkan kepedulian dan keberpihakan kepada sesama. Solidaritas yang lahir dari puasa seharusnya menjadi komitmen yang berkelanjutan,” kata Agung.

Ia menegaskan, penguatan solidaritas sosial menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berkeadaban, sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah puasa.(*)

Editor: Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *