IKA Unair Bangkalan Gembleng 100 Peserta, Ketajaman Gagasan Jadi Modal Utama

Bangkalan, Jawa Timur – Ketajaman membaca persoalan dan kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur menjadi kemampuan yang diasah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) Cabang Bangkalan kepada sekitar 100 peserta dalam kegiatan “Write to Publish: Dari Ide Menjadi Artikel yang Layak Tayang” di RSIA Hikmah Sawi, Bangkalan, Madura, Minggu (20/9/2026).

Mengusung tema “Empat Jam Mengasah Pena, Menembus Media”, kegiatan tersebut tidak sekadar mengajarkan teknik merangkai kalimat. Peserta langsung digembleng melalui praktik menemukan ide, menentukan sudut pandang atau angle, mengolah bukti, menyusun tulisan, hingga melakukan penyuntingan.

Ketua Panitia, Masturah, mengatakan sekitar 100 peserta mendaftar dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari beragam latar belakang.

Format pelatihan sengaja dikemas dengan praktik agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghasilkan rancangan tulisan yang dapat dikembangkan menjadi artikel utuh.

Dua narasumber dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Bustomi, S.Hub.Int., M.IP, Direktur Institute for Strategic and Political Studies (INTRAPOLS) dan penulis aktif di sejumlah media massa, serta Mohammad Tojjib, S.S., M.Hum, yang pernah menjabat General Manager Jawa Pos Radar Madura periode 2013-2020.

Pada sesi Bustomi, peserta diajak melihat bahwa kemampuan menulis tidak dimulai dari mencari kalimat pembuka, melainkan dari kemampuan menemukan persoalan yang layak diangkat.

Peserta diminta menggali ide dari berbagai sumber, mulai dari peristiwa, masalah, data, pengalaman, kontradiksi hingga perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Setelah menghasilkan sejumlah gagasan, peserta kemudian memilih satu ide yang dinilai paling kuat untuk dikembangkan.

Hasil praktik tersebut melahirkan Dra. Siti Aminah, M.Pd., sebagai peserta dengan ide terbaik (best idea) pada sesi Bustomi.

Bagi peserta, proses tersebut menjadi latihan untuk tidak sekadar memiliki pendapat, tetapi mampu mengidentifikasi persoalan dan menentukan bagian mana yang paling penting untuk disampaikan kepada pembaca.

Bustomi juga memperkenalkan alur kerja mulai dari ide lalu angle, memperkuat tulisan dengan bukti (evidence) dan terakhir menjadi naskah utuh yang “bercerita”. Ide, lanjut pria dari Desa Mandung Kokop itu, harus dipertajam menjadi sudut pandang tertentu, kemudian diperkuat dengan bukti sebelum disusun menjadi cerita yang mudah diikuti pembaca.

Tahapan berikutnya dipandu Mohammad Tojjib. Peserta diajak mengubah gagasan menjadi rancangan artikel melalui praktik membuat judul, lead atau pembuka tulisan, dan outline atau kerangka tulisan.

Materi Tojjib menempatkan proses menulis dalam tiga tahap utama, yakni perencanaan, penulisan draf, dan penyuntingan. Struktur artikel mencakup judul, alinea pembuka, batang tubuh, dan alinea penutup.

Dari praktik tersebut, Habiburokhman dari FEB Unair terpilih sebagai peserta dengan judul dan headline terbaik (best title and healine article). Sementara Kolonel CPM Moh. Sawi meraih kategori outline terbaik. Pria rendah hati yang baru saja menjadi Brigjen TNI itu membuat tulisan mengenai “hilang”nya unsur keadilan dalam praktik hukum di era kekinian.

Kegiatan juga berlangsung interaktif. Peserta yang mengajukan pertanyaan kepada narasumber mendapatkan merchandise dari panitia.

Materi yang diberikan tidak berhenti pada kemampuan teknis menulis. Peserta juga ditekankan pentingnya membedakan fakta, interpretasi, dan opini. Fakta harus dapat diverifikasi, interpretasi merupakan makna yang ditarik dari fakta, sedangkan opini merupakan penilaian atau posisi penulis.

Dalam proses penyusunan tulisan, peserta juga diperkenalkan pada pentingnya verifikasi. Sumber, dokumen, waktu, angka, dan konteks harus diperiksa agar klaim dalam tulisan memiliki dasar yang jelas.

Kemampuan tersebut menjadi penting karena tulisan yang baik tidak hanya membutuhkan gagasan kuat, tetapi juga disiplin dalam menguji informasi sebelum disampaikan kepada publik.

Pelatihan kemudian diarahkan pada target konkret. Seluruh peserta diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan dan menyerahkan artikel utuh. Artikel yang masuk selanjutnya akan dipilih untuk menentukan artikel terbaik.

Dengan pola tersebut, kegiatan IKA Unair Bangkalan tidak berhenti pada ruang pelatihan. Peserta harus membuktikan kemampuan mereka mengubah gagasan menjadi karya yang selesai.

Dalam materi penutupnya, Bustomi maupun Tojjib menekankan karakter tulisan artikel media massa yang harus singkat, jelas, tepat, memiliki aliran logika yang lancar, koheren, serta melalui proses penyuntingan serta menekankan pada peserta bahwa tiap media memiliki karakter berbeda. Kini, tugas peserta ditunggu yaitu artikel utuh yang harus dikumpulkan sepekan pasca acara selesai.(*)

Editor: Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *