Di Kampung Bamusbama, Prajurit Satgas Yonif 763/SBA dan Warga Merawat Kepercayaan di Meja Makan

Filantropi48 Views

Bamusbama, Papua Barat Daya – Aroma masakan rumahan siang itu mengalir dari sebuah rumah warga di Kampung Bamusbama, Papua Barat Daya, Selasa (17/2/2026). Di dalamnya, sejumlah prajurit TNI duduk bersila bersama warga. Tidak ada sekat. Mereka berbagi hidangan, bertukar cerita, dan merawat sesuatu yang tak kasatmata: kepercayaan.

Prajurit Satuan Tugas Yonif 763/SBA dari Pos Bamusbama hadir bukan dalam formasi pengamanan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan kampung. Mereka makan bersama warga, menikmati hidangan sederhana yang disajikan dengan kehangatan dan ketulusan.

Di tengah suasana akrab itu, percakapan mengalir ringan. Sesekali terdengar tawa, memecah keheningan siang di kampung yang menjadi bagian dari wilayah penugasan para prajurit. Kebersamaan tersebut menjadi ruang perjumpaan yang mempererat hubungan antara aparat negara dan masyarakat.

Komandan Pos Bamusbama Letnan Dua Infanteri Rahmad Alfadhil Lubis mengatakan, kebersamaan seperti itu merupakan bagian dari upaya membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.

“TNI berasal dari rakyat dan akan selalu bersama rakyat. Kami ingin kehadiran kami di sini bukan hanya dirasakan sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga masyarakat,” ujarnya.

Menurut Rahmad, melalui interaksi yang sederhana dan tulus, komunikasi dapat terjalin lebih baik. Dari situlah tumbuh rasa saling percaya yang menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas wilayah.

Bagi warga Kampung Bamusbama, kehadiran prajurit Satgas Yonif 763/SBA bukan sekadar simbol negara. Mereka adalah sahabat, saudara, dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Kegiatan makan bersama itu disambut dengan antusias dan rasa bangga oleh warga, yang merasa dihargai dan diperhatikan.

Kebersamaan di meja makan itu menunjukkan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat tidak selalu terbangun melalui kegiatan formal. Justru, dalam perjumpaan sederhana yaitu berbagi makanan dan percakapan, tercipta ikatan yang lebih kuat dan tulus.

Di kampung yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, kebersamaan seperti ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya suasana aman dan damai. Prajurit dan warga tidak hanya berbagi ruang, tetapi juga harapan: menjaga kehidupan kampung tetap tenteram, bersama-sama.(*)

(Johannes/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *