
Surabaya, Jawa Timur – Perayaan Harlah Ke-80 Muslimat NU di Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Hong Kong dan Makau menjadi ruang konsolidasi diaspora Nahdliyin perempuan untuk memperkuat dakwah sekaligus menghadapi tantangan era digital.
Dalam kegiatan tabligh akbar yang digelar pada 17 Mei 2026 itu, Founder Pesantren Digipreneur Al Yasmin Surabaya, Hj Nur Cita Qomariyah, hadir bersama tokoh Muslimat NU Jawa Timur Hj Ucik Nurul Hidayati, pengasuh Pesantren Islahiyyah Pasuruan.
Di hadapan jamaah Muslimat NU Hong Kong dan Makau, Nur Cita menekankan pentingnya perempuan Muslimat NU menguasai teknologi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan tradisi ahlussunnah wal jamaah.
Menurut dia, kecanggihan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat dakwah, pendidikan, hingga kemandirian ekonomi perempuan.
“Jadilah perempuan yang bahagia, mampu mensyukuri hari ini, tidak terlalu menyesali masa lalu, dan tidak terlalu mengkhawatirkan masa depan. Jadilah Muslimat yang ber-DUIT: doa, usaha, ikhlas, dan tawakal,” ujar dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.
Ketua PCI Muslimat NU Hong Kong dan Makau, Hj Fatimah Angelia, mengatakan peringatan harlah tahun ini berlangsung penuh antusiasme dan semangat gotong royong para anggota Muslimat NU di luar negeri.
“Alhamdulillah, Harlah Ke-80 Muslimat NU di PCI Hong Kong dan Makau berlangsung sangat luar biasa. Kami bahagia melihat kerja sama dan kekompakan ibu-ibu tangguh yang saling mendukung,” kata Fatimah dalam keterangan tertulis yang diterima di Surabaya, Senin (18/5/2026).
Perayaan Harlah Ke-80 Muslimat NU di Hong Kong dan Makau juga terhubung secara daring dengan puncak peringatan Harlah Muslimat NU di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.
Acara tersebut dihadiri Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi.
Mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban”, Khofifah menyebut keberadaan PCI Muslimat NU di berbagai negara menjadi bagian penting dalam memperluas dakwah Islam moderat Indonesia di tingkat global.
Menurut Khofifah, tradisi shalawat, istighasah, dan manaqib yang terus dijaga Muslimat NU menjadi kekuatan spiritual yang mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan keberkahan bagi bangsa.
“Mudah-mudahan kita semua dianugerahi kesehatan lahir dan batin, sehat ekonomi, penuh keberkahan, dan Muslimat NU serta Indonesia terus mendapat barokah,” ujarnya.
Sementara itu, Arifatul Choiri Fauzi menilai usia 80 tahun menunjukkan kematangan organisasi Muslimat NU. Tantangan ke depan, kata dia, adalah bagaimana organisasi perempuan Nahdliyin mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.
Pada momentum harlah tersebut, Muslimat NU juga menyampaikan seruan perdamaian dunia kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghentikan perang dan mendorong terciptanya perdamaian global. Pernyataan itu dibacakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris oleh perwakilan Muslimat NU.(*)
Editor: Sulaiman













