Pidie Jaya, Aceh – Memulai kembali usaha setelah bencana bukan sekadar soal modal, melainkan juga kesiapan membaca realitas pasar yang berubah. Pelaku usaha mikro dituntut menyusun perencanaan bisnis yang matang dan realistis agar mampu bertahan di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Achsania H., mengatakan, tantangan utama pelaku usaha pascabencana tidak hanya pada keterbatasan modal, tetapi juga menurunnya daya beli masyarakat serta kondisi pasar yang belum stabil.
“Memulai kembali usaha setelah bencana bukan perkara mudah. Karena itu, perencanaan kelayakan bisnis menjadi langkah awal yang krusial sebelum usaha dijalankan kembali,” ujarnya saat mendampingi pelaku usaha di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (22/2/2026).
Menurut Achsania, pelaku usaha perlu memahami bahwa pertumbuhan bisnis tidak selalu berjalan lurus ke atas. Setiap usaha memiliki siklus, mulai dari fase tumbuh, mencapai puncak, hingga mengalami penurunan.
“Jangan pernah berpikir bisnis itu langsung naik. Yang penting adalah bagaimana usaha tersebut bisa bertahan,” katanya.
Ia menekankan, langkah awal yang paling penting adalah memulai usaha dari skala yang realistis, dengan menyasar pasar terdekat sebelum memperluas jangkauan. “Tidak perlu langsung membayangkan pasar yang besar. Mulailah dari lingkungan sekitar, pahami siapa konsumen kita, dan hitung kemampuan usaha secara terukur,” ujarnya.
Dalam kondisi modal terbatas, perencanaan keuangan menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha. Modal, menurut dia, harus diperlakukan sebagai aset produktif yang diputar untuk menghasilkan arus kas, bukan sekadar dana bantuan yang habis untuk konsumsi.
Achsania menjelaskan bahwa penyusunan kelayakan usaha dapat dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat pasca bencana. Produk atau layanan yang relevan, seperti kebutuhan pokok, air minum, makanan sederhana, atau jasa transportasi, cenderung memiliki peluang bertahan lebih besar karena menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Tahap berikutnya meliputi analisis pasar, operasional, sumber daya manusia, strategi pemasaran, hingga proyeksi keuangan untuk enam bulan pertama. Periode ini dinilai sebagai fase paling kritis bagi usaha mikro karena menentukan keberlanjutan usaha.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghitung potensi pasar secara realistis. Pelaku usaha perlu memahami ukuran pasar yang dapat dijangkau, bukan hanya potensi pasar secara keseluruhan. “Kita harus realistis. Jangan hanya melihat potensi besar, tetapi hitung kemampuan kita menjangkau pasar tersebut,” katanya.
Untuk meminimalkan risiko, Achsania menyarankan pelaku usaha memulai produksi secara bertahap, menjaga efisiensi biaya, serta tidak mengambil keuntungan pada tahap awal. Strategi ini penting untuk menjaga stabilitas usaha hingga mencapai titik impas.
Menurut dia, dengan perencanaan yang matang dan strategi yang terukur, usaha mikro memiliki peluang untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. “Usaha yang dibangun secara realistis dan bertahap akan lebih kuat menghadapi risiko dan perubahan,” pungkasnya.(*)
(Khefti/Sulaiman)









