
Probolinggo, Jawa Timur – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) membutuhkan kekuatan bersama dan koordinasi lintas sektor. Penanganan tidak cukup dilakukan oleh satu institusi, tetapi harus melibatkan seluruh unsur secara terpadu.
Hal itu ditegaskan Komandan Korem (Danrem) 083/Baladhika Jaya Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., saat meninjau langsung proses penanganan karhutla di kawasan TNBTS, Rabu (12/8/2026). Dalam kunjungan tersebut, Danrem didampingi Komandan Kodim 0819/Pasuruan Letkol Inf Boga Bramiko, M.Han.
Di lokasi, Danrem melihat personel gabungan TNI, Polri, BPBD, Balai Besar TNBTS, pemerintah daerah, dan relawan bahu-membahu mengendalikan sejumlah titik kebakaran. Koordinasi dan pembagian tugas dilakukan secara intensif agar proses pemadaman berlangsung efektif sekaligus menjamin keselamatan personel.
Menurut Wahyu, karakter medan kawasan Bromo yang berat dan kondisi lapangan yang dinamis menuntut pola penanganan yang terintegrasi. Setiap unsur memiliki peran strategis, mulai dari pemantauan titik api, pemadaman, dukungan logistik, hingga pengamanan personel selama operasi.
“Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu unsur saja. Kekuatan kita ada pada sinergi. Semua harus bergerak dalam satu koordinasi agar penanganan lebih cepat, tepat, dan aman,” ujar Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (13/8/2026) dini hari.
Ia juga mengapresiasi kerja keras seluruh personel dan relawan yang tetap berada di lapangan dalam upaya mengendalikan kebakaran. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi kekuatan penting dalam menghadapi ancaman karhutla sekaligus menjaga kelestarian kawasan konservasi.
Korem 083/Baladhika Jaya, lanjut Danrem, akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran berikutnya.
“Yang kita jaga bukan hanya kawasan TNBTS, tetapi juga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Karena itu, sinergi harus terus dipertahankan,” tegasnya.
Dengan keterlibatan seluruh unsur, penanganan karhutla di kawasan Bromo diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, terukur, dan aman, sekaligus meminimalkan dampak terhadap kawasan konservasi dan masyarakat di sekitarnya.(*)
(Arif Budi P/Sulaiman)







