Salatiga, Jawa Tengah – Di tengah derasnya arus informasi digital dan menurunnya minat generasi muda terhadap isu-isu publik, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengingatkan bahaya apatisme politik yang berpotensi menjauhkan anak muda dari peran strategisnya sebagai agen perubahan. Literasi dinilai menjadi salah satu senjata utama untuk menghadapi tantangan tersebut.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan NGOBAR 2026: Apatisme di Kalangan Anak Muda yang diselenggarakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) UKSW. Forum tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Institute for Strategic and Political Studies (Intrapols), Bustomi Menggugat, sebagai narasumber dengan moderator dosen Fiskom yaitu Rizky Amalia Yanuarta.
Dalam paparannya, Bustomi mengajak mahasiswa melihat politik secara lebih substantif, bukan semata-mata sebagai arena perebutan kekuasaan yang sering dipersepsikan negatif oleh generasi muda.
Menurut dia, politik pada hakikatnya merupakan instrumen pengabdian untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Aristoteles yang menyebut politik sebagai usaha bersama mencapai kebaikan tertinggi bagi seluruh warga negara.
“Ketika dijalankan dengan integritas moral, keberpihakan kepada rakyat, dan tata kelola yang transparan, politik menjadi alat paling efektif untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, kata Bustomi, menjauh dari politik bukanlah pilihan yang tepat bagi generasi muda. Sebaliknya, anak muda perlu memahami dan terlibat dalam proses politik sebagai bagian dari tanggung jawab kewargaan.
Dalam forum yang berlangsung interaktif tersebut, ia juga menyinggung pentingnya independensi dalam kehidupan publik. Dengan menggunakan filosofi ronin atau samurai tanpa tuan, Bustomi menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki keberanian moral untuk berdiri di atas kepentingan publik, bukan tunduk pada tekanan kelompok atau kekuasaan tertentu.
“Saya tidak takut dengan siapa pun. Saya mengibaratkan diri sebagai seorang ronin. Saya tidak bertuan. Saya hanya takut kepada Tuhan karena saya seorang hamba,” katanya.
Menurut dia, prinsip itu penting dimiliki para pejabat negara agar setiap kebijakan lahir dari pertimbangan kepentingan rakyat, bukan karena intervensi pihak tertentu.
“Pejabat harus bergerak karena independensi, bukan karena intervensi,” ujarnya.
Kegelisahan Anak Muda
Diskusi kemudian berkembang menjadi ruang refleksi berbagai persoalan yang dirasakan mahasiswa. Sejumlah peserta menyoroti menurunnya partisipasi politik generasi muda, lemahnya konsolidasi gerakan mahasiswa, hingga kecenderungan sebagian anak muda untuk bersikap apatis terhadap persoalan kebangsaan.
Mahasiswa juga mengangkat berbagai isu aktual, mulai dari dinamika organisasi kemahasiswaan, tantangan gerakan mahasiswa kontemporer, hingga persoalan pembangunan dan otonomi daerah di Papua.
Dalam sesi focus group discussion (FGD), peserta dibagi ke dalam tiga kelompok pembahasan. Kelompok pertama mengangkat isu pembangunan di Papua, termasuk proyek bandar antariksa di Biak Numfor dan kawasan pangan di Merauke yang dinilai perlu memperhatikan aspek lingkungan serta kepentingan masyarakat adat.
Kelompok kedua membahas iklim gerakan mahasiswa yang dinilai mengalami penurunan daya kritis dibandingkan periode-periode sebelumnya. Adapun kelompok ketiga mengulas isu ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama terkait harga bahan bakar minyak (BBM).
Meski isu yang dibahas beragam, seluruh kelompok sepakat bahwa generasi muda perlu memiliki pengetahuan yang memadai sebelum mengambil sikap terhadap berbagai persoalan publik.
Literasi sebagai Jalan Keluar
Dalam konteks itulah, Bustomi menempatkan literasi sebagai kunci untuk melawan apatisme politik.
Menurut dia, rendahnya keterlibatan politik generasi muda sering kali bukan disebabkan oleh ketidakpedulian semata, melainkan karena kurangnya pengetahuan, minimnya budaya membaca, dan lemahnya kemampuan memahami persoalan secara utuh.
Ia menilai literasi tidak boleh dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memahami realitas sosial, mengolah informasi secara kritis, serta membangun pandangan berdasarkan fakta dan argumentasi yang kuat.
Dalam materi presentasinya, Bustomi menyebut literasi sebagai upaya agar generasi muda tidak mudah terjebak pada sensasi dan kontroversi yang banyak beredar di ruang digital. Ia juga mengajak mahasiswa memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis sebagai fondasi lahirnya kesadaran kritis.
Menurut dia, pemuda dan literasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Anak muda harus mampu memadukan semangat aktivisme dengan kekuatan intelektual sehingga mampu menjadi penggerak perubahan yang berbasis gagasan.
Dalam presentasinya, ia menyebut generasi muda perlu menjadi “penganjur”, yakni perpaduan antara aktivis dan intelektual yang mampu mengkritik persoalan sosial sekaligus menawarkan solusi.
Bustomi juga mengingatkan bahwa sejarah Indonesia menunjukkan perubahan besar hampir selalu lahir dari peran generasi muda. Mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, perjuangan kemerdekaan, hingga Reformasi 1998, pemuda selalu hadir sebagai penggerak perubahan.
Menurut dia, tantangan generasi saat ini memang berbeda. Jika generasi terdahulu menghadapi kolonialisme dan otoritarianisme, generasi sekarang berhadapan dengan banjir informasi, budaya instan, serta kecenderungan menjauh dari persoalan publik.
Karena itu, kampus harus tetap menjadi ruang tumbuhnya kesadaran kritis dan kepemimpinan sosial. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pencari gelar, tetapi juga harus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan bangsa.
“Mahasiswa harus bertransformasi dari agent of change, menjadi leader of change lalu dari kekuatan moral menjadi religious force sekaligus memiliki mental golden stock dan bukan sekedar iron stock,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung hangat selama lebih dari dua jam itu menjadi penegas bahwa apatisme politik bukanlah takdir generasi muda. Dengan literasi yang kuat, ruang dialog yang sehat, dan keberanian untuk terlibat, anak muda justru dapat menjadi kekuatan penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan masa depan bangsa yang siap mengguncangkan dunia sebagai pesan heroik Presiden RI pertama, Ir. Soekarno.(*)
Editor: Sulaiman








