
Madiun, Jawa Timur – Balai Desa Klumutan pada Sabtu (24/1/2026) pagi, tak sekadar menjadi tempat berkumpul. Ia menjelma ruang belajar hidup yaitu tempat pengetahuan, pengalaman, dan harapan bertemu. Anak-anak berlarian dengan wajah cerah, para ibu duduk menyimak penyuluhan kesehatan, sementara aroma tahu yang menjadi denyut ekonomi desa menguar samar di udara.
Pada kesempatan itu, mahasiswa BBK 7 Universitas Airlangga (Unair) menggelar Festival GEMA DESA (Gerakan Edukasi Masyarakat Desa) di Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian pengabdian mahasiswa yang selama ini hidup berdampingan dengan warga yaitu belajar dari desa, sekaligus belajar bersama desa.
Melalui GEMA DESA, pendidikan tidak dimaknai semata sebagai proses di ruang kelas. Ia hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kesehatan keluarga, kemandirian ekonomi, kepedulian lingkungan, hingga penguatan nilai sosial dan spiritual. “Kami ingin desa menjadi ruang belajar bersama, tempat warga dan mahasiswa saling bertukar pengetahuan,” ujar salah satu mahasiswa BBK 7 dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi media ini, Senin (26/1/2026) malam.
Sejak pagi, berbagai stan edukasi berdiri di halaman balai desa. Ada penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan PASZTA, sosialisasi perilaku ergonomis bagi pekerja rumahan, serta edukasi stunting yang menyasar ibu hamil dan keluarga muda. Di sudut lain, anak-anak SDN Klumutan tampak antusias mengikuti GERMAJI (Gerakan Belajar Mengaji) yang menjadi cara belajar dengan pendekatan yang hangat dan menyenangkan.
Desa Klumutan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi tahu dan tempe. Aktivitas ini menjadi sumber penghidupan utama warga. Namun, di balik produktivitas tersebut, persoalan limbah ampas tahu sempat menjadi kekhawatiran karena belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui Festival GEMA DESA, mahasiswa BBK 7 menghadirkan inovasi pengolahan ampas tahu menjadi keripik bernilai ekonomis, membuka kemungkinan baru bagi ekonomi rumah tangga warga.
Upaya pemberdayaan ekonomi itu dilengkapi dengan program GASPOL, yang difokuskan pada penguatan pemasaran UMKM lokal agar lebih adaptif dan berdaya saing. Di sini, edukasi menjadi jembatan antara pengetahuan dan keberlanjutan hidup masyarakat desa.
Rangkaian kegiatan GEMA DESA kemudian dilengkapi dengan jalan sehat dan pentas seni. Keduanya bukan sekadar hiburan, melainkan ruang partisipasi yang mempertemukan seluruh unsur desa mulai dari anak-anak, orang tua, perangkat desa, dan tentunya mahasiswa, dalam suasana belajar yang cair dan inklusif.

Melalui Festival GEMA DESA, BBK Unair berupaya mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) dengan menciptakan ruang belajar yang kontekstual dan berpijak pada realitas desa. Kolaborasi erat antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa juga mencerminkan semangat SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Di Desa Klumutan, pendidikan tidak datang sebagai konsep besar yang asing. Ia tumbuh dari balai desa, dari ampas tahu yang diolah bersama, dari percakapan sederhana antara mahasiswa dan warga. Dari sanalah, GEMA DESA menggema sebagai ikhtiar kecil namun nyata untuk menjadikan desa sebagai ruang belajar hidup yang terus bertumbuh. Semoga. (*)
Editor: Sulaiman






