Pekanbaru, – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi meninjau sejumlah demonstration plot (demplot) pertanian dan perikanan di Balai Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BPPMT) Pekanbaru, Kabupaten Kampar, Riau, Sabtu (17/1/2026). Kunjungan itu untuk melihat langsung fasilitas pelatihan bagi calon transmigran sekaligus mengevaluasi kesiapan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Setibanya di BPPMT Pekanbaru, Viva Yoga yang didampingi Kepala BPPMT Ahmad Syahir langsung meninjau demplot budidaya nanas. Di area paling belakang balai, ia mengamati lahan nanas sekaligus menanam bibit dan memetik buah yang telah siap panen.
Dari lahan nanas, Viva Yoga beralih ke unit budidaya ikan sistem bioflok yang menggunakan wadah plastik berbentuk drum. Ia mengamati ratusan ikan yang dipelihara dengan sistem sirkulasi air tertutup. Di sekitar lokasi juga terdapat kandang ayam serta kolam budidaya ikan berukuran hampir setara lapangan voli. Di kolam tersebut, ia turut menebar benih ikan.
Menurut Viva Yoga, seluruh demplot tersebut difungsikan sebagai sarana pelatihan bagi calon transmigran sebelum ditempatkan di kawasan transmigrasi. Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu sebanyak 20 kepala keluarga calon transmigran dari Provinsi Lampung mengikuti pelatihan di BPPMT Pekanbaru.
“Lampung yang dahulu menjadi daerah tujuan transmigrasi, kini justru menjadi provinsi pengirim transmigran. Ini menunjukkan adanya transformasi kawasan transmigrasi,” kata Viva Yoga kepada wartawan.
Ia menilai perubahan tersebut menjadi indikator bahwa program transmigrasi tidak lagi sekadar berorientasi pada pemindahan penduduk, tetapi juga mendorong terbentuknya kawasan ekonomi baru. Hal itu, menurut dia, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan transmigrasi sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di Sumatera, Kementerian Transmigrasi tengah mengembangkan kawasan transmigrasi baru, yakni Kawasan Transmigrasi Barelang yang meliputi Batam, Rempang, dan Galang. Kawasan kepulauan yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia itu direncanakan akan menampung sekitar 1.000 kepala keluarga melalui skema transmigrasi lokal (translok).
“Di Barelang, demplot perikanan bioflok ikan nila dan pertanian hidroponik akan diterapkan agar masyarakat memperoleh nilai tambah ekonomi,” ujarnya.
Viva Yoga menyebutkan, demplot perikanan dinilai relevan bagi transmigran di Barelang karena karakter wilayahnya yang kepulauan. Selain itu, Kementerian Transmigrasi juga telah membentuk kelompok nelayan serta menyalurkan bantuan kapal penangkap ikan bagi transmigran lokal. Meski demikian, para transmigran tetap dibekali pelatihan budidaya tanaman produktif seperti sayuran dan buah-buahan.
“Pekarangan rumah transmigran juga kami dorong untuk dimanfaatkan sebagai lahan hidroponik guna mencukupi kebutuhan keluarga,” kata Viva Yoga.
Ia berharap, melalui pelatihan di berbagai demplot tersebut, transmigran dapat mandiri dan mampu memproduksi komoditas untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dengan demikian, kawasan transmigrasi diharapkan berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya.
Viva Yoga menambahkan, sejak program transmigrasi dijalankan pada era Presiden Soekarno, telah terbentuk 1.567 desa, 466 kecamatan, 116 kabupaten/kota, serta tiga ibu kota provinsi, yakni Papua Selatan, Sulawesi Barat, dan Kalimantan Utara. “Seluruhnya tumbuh dari aktivitas program transmigrasi yang berkembang secara bertahap,” ujar Viva Yoga.(*)
(Ardi W/Sulaiman)







