Tak Ragu Mencoba, Mahasiswi UNAIR Ini Lolos Program Bergengsi di NUS

Surabaya, Jawa Timur – Keberanian untuk mencoba menjadi kunci bagi Evita Olivia Firmanto, mahasiswi Program Studi Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (UNAIR), hingga berhasil lolos sebagai awardee DiscoverNUS Exchange Program 2026 di National University of Singapore (NUS).

Program pertukaran pelajar selama satu semester yang berlangsung pada Januari hingga Mei 2026 itu dikenal sebagai salah satu program internasional bergengsi, dengan proses seleksi yang ketat dan kompetitif.

Sejak awal, Evita mengaku telah menaruh minat besar untuk mengikuti program tersebut. Ia secara aktif mencari informasi melalui Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR serta berdiskusi dengan senior yang telah lebih dulu mengikuti program serupa.

“Saya tidak ingin ragu untuk mencoba. Dari awal saya sudah mencari tahu alur seleksi dan apa saja yang perlu dipersiapkan,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Dalam proses seleksi, Evita menyiapkan berbagai dokumen penting, seperti sertifikat kemampuan bahasa Inggris (ELPT), transkrip nilai, paspor, serta personal statement. Dari seluruh tahapan tersebut, penyusunan personal statement menjadi tantangan terbesar.

“Saya sempat kesulitan menjelaskan diri dalam tulisan. Akhirnya saya belajar dari berbagai sumber, termasuk pengalaman orang lain, untuk memahami bagaimana menyampaikan cerita diri dengan baik,” katanya.

Selama mengikuti DiscoverNUS, Evita menjalani sistem pembelajaran yang menggabungkan lecture class dan tutorial lab class. Ia merasakan pengalaman belajar yang lebih interaktif melalui diskusi dua arah dengan dosen serta presentasi di kelas.

Selain kegiatan akademik, Evita juga mengikuti berbagai agenda kampus seperti art event, university event, dan learning journey. Dalam kegiatan tersebut, ia berkesempatan mengunjungi sejumlah perusahaan global di Singapura, di antaranya Google, Grab, dan Bandara Changi.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah saat mengunjungi kantor Google. Ia memperoleh wawasan mengenai penerapan konsep keberlanjutan (sustainability) dalam layanan pangan, sekaligus melihat langsung budaya kerja perusahaan teknologi global.

“Pengalaman itu sangat membuka wawasan saya, tidak hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana perusahaan besar menerapkan nilai keberlanjutan,” ujarnya.

Evita pun membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu mencoba peluang serupa. Menurut dia, keberanian harus diiringi dengan persiapan yang matang, mulai dari pencarian informasi hingga kesiapan beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak mencoba. Yang penting, persiapkan diri dengan baik dan jangan takut keluar dari zona nyaman,” tuturnya.

Pengalaman Evita menjadi bukti bahwa peluang global terbuka bagi mahasiswa yang berani melangkah. Lebih dari sekadar studi, program pertukaran pelajar menjadi ruang untuk memperluas wawasan, membangun jejaring internasional, sekaligus mengasah kemampuan beradaptasi di tengah keberagaman.(*)

(Khefti/Sulaiman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *