Spirit Nuzulul Qur’an Bergema di Masjid Roudlotul Falah Surabaya

Religiusitas12 Views

Surabaya, Jawa Timur – Spirit Nuzulul Qur’an bergema di Masjid Roudlotul Falah pada Kamis (5/3/2026) malam. Ratusan jamaah memadati masjid untuk mengikuti peringatan turunnya Al-Qur’an yang diisi tausiyah oleh KH Ainul Yaqin, M.Si., Apt., pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur sekaligus Ketua Pusat Halal Universitas Airlangga, serta lantunan ayat suci Al-Qur’an dari qori internasional, Ustadz Zulfikar.

Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum bagi jamaah untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, KH Ainul Yaqin menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber petunjuk utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat. “Siapa yang ingin menjadi orang bertakwa, petunjuknya ada di dalam Al-Qur’an. Jika ingin selamat dunia dan akhirat, maka kembali kepada Al-Qur’an,” ujar Ainul Yaqin di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan, Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada 17 Ramadhan ketika Nabi sedang berkhalwat di Gua Hira. Peristiwa tersebut menjadi awal turunnya wahyu yang kemudian disampaikan secara bertahap kepada umat manusia.

Tanggal 17 Ramadhan, lanjutnya, juga memiliki makna historis dalam perjalanan Islam, karena pada tanggal yang sama terjadi Perang Badar, peristiwa penting yang menunjukkan bagaimana iman dan keteguhan mampu mengantarkan kemenangan.

Lebih jauh, Ainul Yaqin menjelaskan proses turunnya Al-Qur’an dalam perspektif keilmuan Islam. Ia menyebutkan bahwa Al-Qur’an terlebih dahulu ditetapkan di Lauhul Mahfudz, sebelum kemudian diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar.

“Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah pada malam Lailatul Qadar,” jelasnya.

Malam Lailatul Qadar, yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, sengaja dirahasiakan waktunya. Hal itu dimaksudkan agar umat Islam bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah sepanjang bulan Ramadhan.

Menurut Ainul Yaqin, para ulama pada masa lalu bahkan telah mempersiapkan diri menyambut Ramadhan sejak jauh hari. “Mereka berdoa sejak bulan Rajab agar dipertemukan dengan Ramadhan, karena ingin memaksimalkan ibadah sepanjang bulan suci tersebut,” katanya.

Doa yang kerap dipanjatkan adalah Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana, yang bermakna memohon keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban serta dipertemukan dengan Ramadhan.

Dalam kesempatan itu, Ainul Yaqin juga mengapresiasi Masjid Roudlotul Falah yang mampu menghadirkan qori internasional untuk memeriahkan peringatan Nuzulul Qur’an. “Ini menunjukkan bahwa semangat memuliakan Al-Qur’an dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari masjid di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tausiyah menjelang shalat tarawih. Sementara itu, lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Zulfikar dibacakan sebelum shalat witir, yang disambut antusias oleh para jamaah.

Momentum peringatan Nuzulul Qur’an tersebut diharapkan semakin memperkuat semangat umat Islam untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Jika kita belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, jangan sampai anak-anak dan generasi penerus kita tidak bisa membaca Al-Qur’an,” kata Ainul Yaqin.

Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Roudlotul Falah malam ini pun menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi harus menjadi pedoman hidup yang menuntun umat menuju kehidupan yang lebih baik, berakhlak, dan penuh keberkahan.(*)

Editor: Sulaiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *